Surat dari Sahabat Kecil

Kawan, Tulisan ini hanyalah sebuah ujaran yang disarikan dan digubah seperlunya. Anugerah terbesar yang dimiliki manusia adalah ‘akal dan fikiran’. Untuk itu, bacalah dengan hati yang lapang dan tenang. Resapi ujaran dalam setiap kata dan cobalah pelajari maknanya dengan naluri dan logika berfikir yang kamu miliki. Ini hanyalah sebuah saduran yang menjadi wacana. Ingatlah hal ini baik-baik. Maafkan saya jika ada yang kurang berkenan dan tidak pada tempatnya. Jika ada hal yang kurang itu sepenuhnya berasal dari kebodohan saya, dan kebenaran itu hanya milik ALLAH semata. Sekali lagi, maafkan saya.
Kawan, Banyak orang berbuat baik, tetapi hanya segelintir diantaranya yang berbuat baik dengan cara yang bijak. Ia yang berbuat bijak dengan cara yang bijak adalah seorang pujangga. Memberi sedekah memang merupakan sebuah perbuatan yang baik, tetapi belum tentu bijak. Sedekah tidak harus dalam bentuk ‘uang’, namun bisa dalam bentuk lain. Tidak harus dalam bentuk ‘ikan’, namun bisa dalam bentuk ‘kail’. Menghadapi krisis moneter yang berkepanjangan, seorang teman memutuskan tidak akan mengurbankan hewan. Ia membagikan beras dan kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya kepada tetangga kepada tetangga yang kurang mampu. Dia sangat bijak!
Kawan, Bukankah dosa itu ciptaan manusia? Lalu apabila ia yang mengawalinya, ia pula yang harus mengakhirinya. Untuk mengakhiri apa yang anda sendiri awali sesungguhnya anda tidak perlu bantuan dari orang luar. Dosa berarti kesalahan, kekhilafan. Begitu sadar, anda tidak akan berbuat salah lagi. Anda tidak akan khilaf lagi.
Kawan, Keceriaan itu adalah kehidupan dan kesedihan adalah kematian. Tidak berarti kita harus melarikan diri dari pengalaman-pengalaman yang pahit. Lagipula, kita tidak bisa melarikan diri. Kita harus tetap dapat melewati setiap pengalaman hidup. Ada suka, ada duka. Ada panas, ada dingin. Yang penting adalah sikap kita. Apa yang dapat kamu lakukan itu yang penting, dan yang lebih penting adalah cara kita melewati setiap pengalaman. Kita bisa melewatinya dengan senyuman pada bibir, atau jeritan. Pilihan ada ditangan kita.
Kawan, Apa yang dapat kau lakukan saat ini harus dilakukan saat ini juga. Suatu pekerjaan yang mulia hendaknya tidak ditangguhkan sampai hari esok. Kenapa? Karena pikiran kita bisa berubah. Jangan menunda sampai hari esok, apa yang dapat kamu lakukan hari ini. Jangan menunda sesaat kemudian, apa yang dapat kamu lakukan pada saat ini.
Kawan, Hidup ini merupakan suatu kesempatan. Apabila sadar, kita tidak akan menyia-nyiakannya. Kita akan menggunakannya sebaik mungkin. Kesempatan untuk memperbaiki diri, kesempatan untuk menggapai kesempurnaan, itulah hidup. Betapa malangnya ia yang menyia-nyiakan kesempatan ini. Betapa bahagianya, betapa beruntungnya, ia yang menggunakan kesempatan ini.
Kawan, Engkau adalah kasih. Engkau berasal dari kasih. Engkau terbuat dari kasih. Engkau tidak dapat berhenti mengasihi. Kebencian tidak masuk agenda kehidupan. Karena satu-satunya agenda kehidupan adalah kasih dan mengasihi. Ia yang membenci sesuangguhnya belum kenal kehidupan. Ia belum hidup!
Kawan, Kemanapun engkau pergi, seberapapun tenangnya tempat itu, jika masih ada ketidaktenangan dalam dirimu, maka disanapun kau tidak akan tenang. Sebaliknya, kalau ada ketenangan dalam diri kita, ketenangan di luar diri tidak akan mempengaruhi kita. Ditengah keramaian dan kekacauan pun, kita akan tetap tenang!
Kawan, Dengan memaafkan diri sendiri, sesungguhnya kita membantu TUHAN memaafkan kita. Memaafkan diri berarti melepaskan diri dari memori-memori masa lalu yang selalu menghantui kita. Memaafkan diri berarti menyadari bahwa yang lalu itu sudah berlalu, dan harus ditinggalkan. Dengan demikian, engkau menjadi progresif, engkau akan selalu melangkah ke depan. Engkau tidak akan berhenti ditempat atau mundur ke belakang.
Kawan, Menyadari berkah ilahi dalam hidup ini adalah sebuah berkah. Sesungguhnya dengan hanya dengan menyadari keberadaan ALLAH tidak akan membahagiakan kamu. Keyakinan atau iman merupakan sebuah proses yang harus dilewati untuk membangkitkan ALLAH dalam diri, untuk membuatNYA mewujud dalam diri. Karena, yang dapat membahagiakan anda hanyalah ALLAH yang mewujud dalam diri anda sendiri.
Kawan, Bacalah ini baik-baik, renungkanlah dengan tenang dan berfikir jernih. Kebahagiaan itu adalah wujud kasih sayang sejati, kasih sayang itu ada disetiap hati dan sanubari. Kasih sayang itu ada disetiap jiwa yang tenang, dan yang lebih penting, kasih sayang itu ada disepanjang hari dan sepanjang masa, BUKAN HARI INI SAJA!!
Kawan, Mulai hari ini tidurlah dengan tenang, mimpilah yang indah dan bayangkan kedamaian yang akan kau peroleh esok hari. Bekerjalah dan belajarlah untuk masa depanmu dan untuk TUHANmu. Hidupmu adalah sepenuhnya milikmu dan kamu adalah manusia yang merdeka! Ketahuilah kemerdekaan itu, sungguh merupakan hak yang diberikan TUHANmu sejak kamu dikandung oleh Ibumu dan tak seorangpun bisa merampasnya darimu, kecuali TUHANmu.

Surat dari Seorang Mahasiswa

Bapak/Ibu yang mulia,
Kurang lebih Enam bulan yang lalu, saya pernah merilis sebuah tulisan di milist, tentang seorang anak bernama Yupiter. Anak yang sangat berbakti, mencintai dan mengasihi ibunya dan menyayangi kedua adik perempuannya. Dia telah mempertaruhkan hidup dan masa depannya di dunia, untuk ketiga perempuan yang sangat berarti dalam hidupnya.
Namanya Yupiter Putera Sagita, umurnya belum genap 20 tahun. Namun beban yang ditanggungnya terlalu berat untuk anak seusia dia. Semestinya saat ini dia berada di bangku kuliah menimba ilmu dan belajar untuk bekal masa depan, menghabiskan masa belia diantara canda tawa dan kesenangan remaja yang baru tumbuh dengan segala romantisme, semestinya dia berada dalam limpahan kasih sayang seorang ayah dan asuhan dimana dia dapat berlindung dan merasa nyaman, dan seharusnya dia beroleh kebahagiaan dan kehidupan selayaknya bocah-bocah lain dibelahan dunia manapun. Sesungguhnya dia sangat membutuhkan semua itu; ilmu, cinta, kasih sayang, perlindungan, kenyamanan dan kegairahan masa muda. Namun dia telah bertransaksi dengan TUHAN, dan menukarkan segala kebahagaiaan hidup yang seharusnya menjadi haknya, dengan kebahagiaan ketiga perempuan yang sangat dicintainya, Ibu dan kedua adik perempuannya.
Sesungguhnya Ibunya seorang wanita yang cantik, kuat, berbudi, istiqamah dan sangat menyayangi keluarganya. Ketika suaminya tewas pada sebuah kecelakaan di laut, beliau mengambil alih tanggung jawab membesarkan ketiga anaknya sendirian dan karena kecintaan pada almarhum suami dan ketiga buah hati, beliau memutuskan tidak menikah, walau sesunggunya itu masih sangat mungkin. Untuk membesarkan ketiga buah hatinya, apa saja beliau lakukan asalakan halal, berjualan kue, mecuci bahkan menjadi buruh pabrik pun beliau lakukan, agar ketiga buah hatinya dapat makan, dan sekolah. Pagi-pagi benar beliau sudah berangkat, membanting tulang mengikuti kerasnya hidup, bercucuran peluh dibawah panasnya matahari, hampir tak kenal lelah. Beliau sadar betul dan bercita-cita agak kelak ketiga anaknya menjadi orang yang berilmu dan memiliki masa depan. Beliau tidak memperdulikan keadaanya hingga suatu hari, setelah sekian lama menahan dan menyimpan rasa sakit, dokter menyatakan beliau terkena kanker hati. Sejak itu Ibunya sakit Yupiter, mengambil alih segalanya. Dia meninggalkan kuliah dan cita-citanya di dunia, dan bekerja untuk mencari nafkah untuk kedua adiknya, dan Ibunda tercinta.
Pada suatu hari, karena keadaan yang kian sulit, dan ketidakmampuan membiayai pengobatan sang Ibu, akhirnya mereka sekeluarga memutuskan untuk pulang ke kampung halaman, Beberapa waktu yang lalu, saya menyempatkan diri mengunjunginya di sebuah kota kecil di Sumatera. Beberapa waktu yang lalu, ketika ada waktu luang, saya sempatkan bersilaturahmi mengunjungi keluarga ini di Sumatera Selatan. Hampir tak dapat saya menahan haru dan kesedihan, melihat apa yang kini terjadi. Ibu yang berhati mulia itu terbaring sakit, dengan keadaan yang sungguh memprihatinkan, pucat, kurus dan pasrah karena sakit yang dideritanya, dan betapa saya melihat sebuah kenyataan betapa berat beban yang dipikul oleh seorang Yupiter, mencari nafkah untuk ketiga perempuan belahan hatinya itu, dan berjuang mengobati Ibunya yang sakit. Semua dia lakukan seorang diri, dan untuk ukuran seorang remaja, sungguh dia telah melakukan sesuatu melebihi kemampuan dan tanggung jawabnya.
Saya sempat berbincang dengan ibu dan kedua adiknya, pada saya mereka bertutur bahwa sesungguhnya mereka tidak tega melihat hidup yang dialami Yupiter kini. Seorang anak yang bekerja serabutan namun tak pernah lupa padaTUHANnya. Pagi-pagi dia sudah bangun, bahkan sebelum subuh dia sudah pergi bekerja, disebuah perkebunan kelapa sawit yang jaraknya puluhan kilo dari rumahnya. Kondisi fisiknya sekarang jauh dari yang dulu, seperti kali pertama saya mengenalnya sebagai seorang mahasiswa yang cerdas. Kulitnya yang dulunya putih kini agak kecoklatan, rambutnya merah terpanggang matahari dan matanya sayu karena kurang tidur. Setiap siang belia lelaki ituselalu berlari sekencang hati pulang, mengantarkan makanan untuk Ibu dan kedua adiknya, mencium tangan, membelai ibunya penuh kasih dan meyakinkan kedua adiknya untuk terus berdoa dan menjaga sang ibu, kemudian berlari lagi sekencang mungkin mencari pekerjaan yang lain, agar beroleh berapa pun rupiah, untuk makan mereka berempat untuk malamnya, dan obat untuk sang Ibu. Dia pulang hampir tengah malam, memastikan kondisi ibu dan kedua adiknya dalamkeadaan baik, sebelum beristirahat sejenak beberapa jam, agar kuat untuk bekerja besok.
Pada saya dia bercerita betapa besar keinginannya untuk menyembuhkan ibunya dan kembali ke bangku kuliah, membangun jembatan yang menhubungkan jalannya ke masa depan yang kini terputus. Betapa ingin dia memberikan kesenangan dan kehidupan yang layak bagi ketiga perempuan yang paling dia cintai di dunia ini, betapa ingin dia melihat kedua adiknya kembali ke bangku sekolah menggapai ilmu, agar tidak menjadi TKI ke luar negeri. Yupiter sangat sadar, bahwa hanya dengan melanjutkan kuliah dia bisa melanjutkan cita-citanya itu. Tapi sangat terlihat di sorot wajahnya, bahwa kini dia kini telah mengubur semuanya, karena hampir tak ada jalan setelah melihat keadaan dan hidup yang dia lalui kini.
Saya mengenalnya sebagai mahasiswa yang cerdas, dan panutan hati hampir setiap orang dan incaran banyak gadis di kampus karena memang dia lelaki yang gagah dan kuat, tak segan membantu teman-temannya dengan segala kerendahan hati, mengajarkan mereka apa yang dia tau, selalu ikhlas dan tekun beribadah. Tutur katanya sangat santun dan selalu tersenyum, matanya selalu berbinar dan selalu mensyukuri hidup. kuliah dia lalui dengan beasiswa yang hanya cukup bayar SPP dan untuk hidupnya dia bekerja sambilan mengajar les untuk anak SMP/SMA dari rumah ke rumah, dan sebagian besar dari rupaiah yang dia dapatkan dibawa pulang untuk meringankan beban sang Ibu dan biaya sekolah sang adik. Kedua adiknya pun adalah gadis-gadis kecil yang cantik, cerdas dan sholehah, yang juga bekerja sepulang sekolah, membantu ibunya menyiapkan dagangan untuk dibawa hari itu sambil bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di kawasan Jakarta utara. Sering ada tawaran buat kedua adiknya menjadi TKW di luar negeri, namun Yupiter selalu memberi pengertian kepada kedua adiknya tentang pekerjaan itu, dan meyakinkan mereka untuk tetap sekolah. Demikianpun dia meminta mereka untuk tidak menerima tawaran bekerja di club-club malam. Semua dia lakukan karena kecintaannya pada Ibu dan kedua adiknya. Sebagai seorang pengajar, saya ‘mengizinkannya’ untuk tidak mengikuti beberapa kali mata kuliah, jika memang jadwal itu bentrok dengan jadwal les yang dia berikan untuk anak SMU. Belakangan saya baru mengetahui, bahwa yupiter tidak hanya memberikan les mengajar bidang tudi, melainkan juga les mengaji untuk anak-anak SD dan sekolah lanjutan. Berapa mulianya!
Beberapa hari sebelum ramadhan, saya mendapat khabar darinya bahwa dia akan ke Jakarta, untuk mengurus hal-hal terutama tentang sisa harta dan rumah kontrakan yang mereka tinggalkan, yang habis masa kontrakannya akhir September kemarin. Ketika bertemu saya memeluknya hangat, merangkul dan mengenggam tangganya. Sungguh entah kenapa dia sudah bagaikan seorang adik di hati saya, dan sejak kali pertama bertemu dan melihat sakit ibunya, saya sudah berjanji akan melakukan apa saja untuk membantunya. Dia menyempatkan diri bertemu dengan temen-temannya di kampus, dan sangat terlihat betapa hampir semuanya sangat merindukannya, dan kehilangan seorang ’sahabat dan guru’ seperti dirinya. Saya pun dapat merasakan, betapa dia juga merindukan temen-temannya dan betapa dia merindukan kembali belajar di kampus.
Sesaat sebelum kembali ke sumatera, dia ziarah ke makam ayahnya di sebuah kawasan di Jakarta Utara. Pusara itu dia bersihkan dan dia tata agar terlihat baik, kemudian berdoa dengan sangat kusyu. Ketika akan amit pada ayahnya, dia sempat berujar, ’Ayah, mungkin yupe, mama dan adik-adik tak lagi bisa sering mengunjungi papa disini karena kami memutuskan pulang ke kampung, tapi percayalah papa selalu ada dihati kami dan setiap saat kami selalu berdoa untuk ayah, percayalah Ibu dan adik-adik akan selalu merindukan ayah. Mohon doa restu, doakan semoga kelak ALLAH akan menyatukan kita sebagai keluarga di syurga’
Saya sangat peduli pada Yupiter, karena padanya saya berkaca tentang hidup dan kehidupan. Padanya saya belajar tentang keikhlasan, ketulusan dan bagaimana menerima kenyataan dengan kebesaran hati. Saya pernah merasakan kesulitan hidup ketika kecil, mungkin tidak seberapa berat dibandingkan, bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang dia alami. Dan ketika kali terakhir bertemu saya sempat mengatakan padanya, YUPITER, KAMU TIDAK SENDIRI! Andaikan ada kemampuan saya ingin mengambil alih tanggung jawab untuk mengobati ibunya, dan mengembalikannya ke bangku kuliah, karena saya yakin masa depannya sungguh cerah. Namun satu demi satu harus dilakukan berdasarkan prioritas, kesehatan ibunya jauh lebih utama.
Tuan-Tuan yang mulia,
Dengan segala kerendahan hati, ijinkan saya meminta bantuan kepada anda semua untuk kesembuhan seorang Ibu yang begitu mulia, Ibu menjadi inspirasi untuk ketiga anaknya, Ibu yang mencintai dan sangat dicintai putera-puterinya. Ibu yang berhati mulia itu, kini terbaring sakit karena kanker hati dan butuh perawatan segera. Seandainya waktu bisa berjalan mundur, maka saya yakin bisa berusaha sendiri untuk ini. Namun sepertinya harus berpacu dengan waktu, agar semuanya tidak terlambat. Andaikan saja ’ada dermawan’ yang mamu meminjamkan biaya pengobatan ini, maka dengan ikhlas akan saya ambil alih tanggung jawab ini dengan segala keberkahan.
Jika ada rizki yang anda miliki, maka sisihkan sedikit untuk membantu keluarga ini. Berapapun rizki itu, sungguh besar artinya untuk kesembuhan seorang Ibu, dan memberi harapan bagi tiga anak manusia. Saya pun akan melakukan apa saja, untuk memperoleh donasi untuk Yupiter dan Ibunya. Mudah-mudahan masa ini berlalu dan Yupiter bisa kembali ke bangku kuliah, dan izinkan saya untuk menjadi orang tua asuh baginya, dan mengantarkannya ke masa depan. Saya yakin dia akan menjadi orang terkemuka kelak, yang akan membawa perubahan dan arti bagi perjalanan negeri ini. Mudah-mudahan Ramadhan yang penuh berkah ini, mampu menarangkan jalan dan niat saya dan kita semua untuk membantu keluarga ini.
Donasi bisa anda berikan langsung pada no rekening BCA 174-127-4243 a.n. JUPITER PUTRA SAGITA.
Diakhir tulisan ini, saya lampirkan sebuah tulisan, yang saya ambil dari catatan harian Jupiter, dengan mengabaikan apakah ini sebentuk gubahan atau berasal dari hati, paling tidak kita bisa menangkap keikhlasan yang tersirat pada tulisan tersebut. Semoga bermanfaat.
Semoga apa yang kita lakukan ini, beroleh pahala dari ALLAH, dan diberkahi dengan rejeki yang berlimpah.
Mohon maaf dan salam.

Kita Bukan Bangsa Babu

Beberapa waktu yang lalu, Pak Jamil Azzani, penulis buku ‘Kubik Leadership’ dan the platinum member in heart for everybody in PROFEC’S MILIST, berbagi pengalaman dengan kita semua tentang Kubik Leadership di Negeri Brunai Darusalam, sebuah negeri yang sangat kaya, bahkan konon khabarnya memiliki pendapatan perkapita tertinggi di dunia saat ini, yaitu senilai USD 30.000/orang pertahun.
Sebagai bagian dari komunitas PROFEC dan lebih dari itu, sebagai bagian dari anak bangsa, sungguh saya merasa bangga dengan terobosan yang dilakukan ‘Kubik Leadership’ menjadi duta bangsa yang insya ALLAH menjadi sebuah awal yang baik, mengembalikan kebesaran bangsa.
Namun, terlepas dari kekaguman itu, yang menyita dan menyentak perhatian saya adalah bagian dari narasi yang menyatakan, bahwa ‘Negeri kecil yang kaya raya itu’ mengenal dan menyebut kita sebagai ‘Bangsa Babu’ sebuah sebutan yang cukup menjadi alasan bagi kita semua untuk kembali berfikir dan merenungkan kembali, apakah benar kita adalah bangsa babu? Sejauh mana keakurasiannya? Apakah dapat kita terima ‘sebutan itu’ secara mentah? atau mungkin kita sendiri mulai berfikir, dan membenarkan bahwa sesungguhnya kita ’bangsa babu’ dan mulai menarima ’sebutan itu’ sebagai bagian dari ’akhir perjalanan sebuah bangsa’?
Tuan-Tuan yang mulia, dengan segala keterbatasan pengetahuan dan akhlak yang saya miliki, Izinkan saya menyatakan pendapat tentang hal, paling tidak dari sudut pandang saya sebagai ’salah satu shareholder’ bangsa, yang hingga kini begitu saya cintai, dengan segala kebanggaan sebagai anak negeri dan Bumiputera. Namun sebagai catatan awal, saya hanya mengajak semua kita meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, berdasarkan proporsi yang sebenarnya, tanpa sedikitpun mencari pembenaran. Karena sesungguhnya belajar dari sebuah kesalahan, kemudian memperbaikinya dan ’improve’ seiring dengan berjalannya waktu, maka itu jauh lebih mendatangkan kemuliaan, dibandingkan hanya diam membisu, menerima mentah-mentah, bahkan menikmati ’pujian itu’ sebagai bagian dari ’takdir sebuah bangsa’.
Jika kita menegok ke belakang perjalanan negeri ini, maka sungguh kita adalah bangsa yang sangat besar, negeri yang terdiri dari hampir dua puluh pulau yang besar dan kecil, dan dua pertiga dari luas wilayahnya adalah lautan. Oleh karenanya negeri ini disebut sebagai NUSANTARA, yang berarti pulau-pulau (nusa) yang berada diantara lautan dan samudera.
Sebuah negeri yang sangat strategis, terletak diantara dua benua dan dua samudera, dan sebuah negeri yang gugusan pulaunya merupakan gugusan pulau-pulau terbesar dunia. Negeri ini sangat terkenal dengan kekayaan alamnya, begitu subur dan makmur, gemah ripah loh jinawi, sehingga menjadi incaran dan ajang perebutan hampir semua bangsa di dunia.
Sejarah telah mencatat dengan baik, bahwa sangat tidak mudah menaklukkan nusantara itu, begitu banyak yang harus ’dikorbankan’ oleh bangsa yang ingin menjajah bangsa ini, karena setiap jengkal tanah akan dipertahankan dengan darah dan nyawa. Kalaupun mereka bisa menjajah negeri ini, penjajah itu tidak akan pernah ’tenang’ karena mereka hanya bisa menguasai tanahnya, tapi tidak hati dan jiwa penduduknya, sehingga hampir setiap hari terjadi perlawanan dimana-mana, hampir diseluruh pelosok negeri, dari sabang sampai merauke. Dan sejarah masa lalu menorehkan tinta emas, yang akan diingat sebagai bagian dari sejarah bangsa-bangsa lain, bahwa di ’negeri babu’ ini pernah berdiri kerajaan-kerajaan besar yang kekuasannya hampir meliputi seluruh Asia Tenggara, yang jika diukur permukaan kekuasaan itu ’hampir seperempat’ luas permukaan bumi. Sebuah kebanggaan masa lalu, tapi apakah kini hanya menjadi kenangan?
Sejarah ’tak berhenti mencatat’ begitu banyak pahlawan yang lahir dengan kegagahan tak kenal menyerah, mati berkalang tanah hingga titik darah penghabisan, hanya untuk mempertahankan harga diri sebagai dan kehormatan sebagai bangsa, dan bangsa-bangsa di dunia akan mengenang ’bangsa babu ini’ sebagai bangsa pejuang, yang gigih memperjuangkan kemerdekaannya, dan menjadi satu diantara tiga bangsa di asia timur raya, selain Philipina dan Vietnam yang memperoleh kemerdekaannya secara elegan, yang diperoleh seharga jutaan kusuma bangsa yang tak mati sia-sia. Apakah ini tinggal sejarah?
Cobalah bandingkan dengan sejarah ’negeri juragan’ seperti Malaysia dan Singapura, bahkan negara yang menyebut tanah gemah ripah lo jinawi ini sebagai ’negeri babu’ hingga kini, sungguh ’kebesaran mereka’ nyaris tidak sebanding dengan kebesaran ’negeri babu’ ini. Sejarah masa lalu hampir tidak mencatat kebesaran negeri itu, dan kemerdekaannya juga diperoleh dengan begitu mudah atas kebaikan ’Britania Raya’, nyaris tanpa darah dan sebagai kompensasinya hingga kini mereka tunduk kepada Inggris sebagai bagian dari negara-negara persemakmuran. Lalu dimana letak harga diri mereka sebagai bangsa? Dan dimana letak salah kita sebagai bangsa?
Tuan-Tuan yang mulia, mungkin sebutan ’negeri babu’ itu tidak sepenuhnya salah, jika kita mau membuka mata hati kita dan jujur mengakui fakta-fakta, yang mungkin menunjukan kenyataan bahwa ’hipotesa itu’ benar adanya. Cobalah kita lihat apa yang terjadi kini, dan pikirkan ini baik-baik dengan segala kelapangan hati. Negeri ’gemah ripah lo jinawi’ ini adalah satu-satunya negera pengimpor barang terbesar di dunia, termasuk barang-barang kebutuhan pokok seperti beras, gula, gandum dan sebagainya. Kita mengimpor beras dari Vietnam, yang jumlah penduduknya sepertiga dari penduduk Indonesia dan luas wilayah negaranya hanya seluas propinsi Kalimantan Timur, namun mereka bisa berswasembada pangan, bahkan berlimpah dan diekspor ke negara yang penduduknya 3 kali lebih besar dengan wilayah hampir sepuluh kali lebih besar. Lalu dimana letak kesalahan kita, padahal negeri ini adalah negeri yang subur, tanahnya terbentang luas dan kaya dengan unsur hara. Di sisi lain kita dianugerahi ’ALLAH’ kekayaan yang berlimpah baik kekayaan alam yang dapat diperbaharui (hutan, dsbnya) maupun keayaan alam yang tidak dapat diperharui (emas, minyak buni, tembaga, batubara, dsbnya).
Namun kita tetaplah negara yang miskin, dan keanehan itu menjadi semakin nyata, karena hanya di negeri ini orang berlomba-lomba dan bangga mengatakan dirinya miskin, bahkan ’bangga jadi orang miskin’ hanya untuk memperoleh BANTUAN LANGSUNG TUNAI dari pemerintah. Mereka telah menukarkan harga dirinya seharga seratus ribu rupiah tiap bulannya. Dan hal ini makin memicu konflik karena BLT itu menjadi sumber perpecahan dan permusuhan di masyarakat, karena mereka dengan bangga ’merasa lebih miskin’ dari yang menerima bantuan itu. Ini adalah ’fakta pertama’ yang mendukung hipotesis bahwa mungkin benar bahwa bangsa kita adalah ’bangsa babu’.
Fakta kedua yang ’makin mendukung hipotesa’ itu adalah kenyatan, bahwa ’manusia’ ternyata telah menjadi ’komoditi’ di negeri ini, dan kita tidak dapat memungkiri bahwa ’negeri babu ini’ adalah pengekspor orang terbesar di dunia. Dapat kita saksikan hampir di berita-berita di hampir seluruh media masaa, pagi, sore dan malam tentang pengiriman TKW & TKI yang tak memiliki keahlian, yang kemudian diperlakukan dengan tidak semestinya, disiksa, direngut kemerdekaannya sebagai manusia, diperkosa, bahkan tidak sedikit yang yang mati sia-sia. Dan ketika hal itu terjadi, bahkan ketika pulang tak bernyawapun pemerintah kita tidak bisa berbuat apa-apa, dan keluarga mereka terbungkam pasrah ’hanya senilai santunan’ dan hampir tak ada tindakan hukum atas orang yang telah melenyapkan nyawa putra-putri kita, karena mereka ’punya uang’
Gadis-gadis belia, dan pemuda-pemuda gagah ’pahlawan devisa itu’ adalah cermin kesalahan kita sebagai bangsa. Seandainya saja kita mau bersyukur dan ’tidak menerima hidup ini’ apa adanya, maka mungkin hal ini bisa kita hindari. Selama ini kita kurang menghargai ’hakikat dan hak dasar hidup manusia’. Lihatlah, apa yang bisa dilakukan pemerintah karena tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar ’kekeliruan’ ini adalah bagian dari ’kesalahan pemerintah’ dalam mengelola negara. Mereka tidak pernah menghitung dengan cermat setiap akibat dari sebuah kebijakkan yang diambil. Kenaikan harga minyak itu mungkin tidak akan jadi masalah, jika pemerintah mampu menaikan indikator-indikaor ekonomi, menjamin kesejahteraan rakyat, menciptakan lapangan kerja yang cukup. Jika alasan menaikkan harga minyak itu hanya karena masalah ’Untung dan Rugi’ maka buat apa ada pemerintah? Bukankah merupakan ’amanah’ dan kewajiban azasi mereka sebagai pemimpin dan pengelola bangsa ini? Cobalah kita lihat akibat dari salah satu kebijakkan menaikan harga minyak itu. Inflasi terjadi hampir di setiap sektor mikro ekonomi, harga-harga naik sedangkan pendapatan penduduk tidak ada yang bertambah, bahkan pengangguran semakin tinggi. Bantuan langsung tunai seratus ribu itu, ’mungkin telah membantu’ 15 juta orang, namun telah menambah orang miskin sebesar 40 juta orang, karena pengangguran dan daya beli yang menurun. Apakah seimbang? Bukanlah lebih banyak mudharatnya dari pada ma’rifatnya? Jika ’prediksi ini benar’ maka dapat dikatakan bahwa pemerintah kita telah melakukan kejahatan pada rakyatnya. Namun apakah ini sepenuhnya kesalahan pemerintah? Tentu saja tidak! Kita pun turut berkontribusi atas ’kefatalan itu’ karena sebagai manusia dan bangsa, kita pun tidak menghargai diri kita sendiri, baik sebagai individu ataupun sebagai bangsa.
Cobalah lihat, apa yang terjadi di lingkup kehidupan kita akhir-akhir ini. Tayangan televisi, sinetron, infotainment, berita-berita di media massa adalah sebagian kecil dari contoh kecil yang bisa kita sorot. Karena media-media itu seakan menjadi ’acuan’ bagi setiap kita untuk mencontoh dalam berperilaku. Anak-anak kita, menikmati semua tayangan itu, bahkan anehnya ’pembelajaran itu’ diperdalam dalam bentuk acara, yang merekam sebuah kejadian kriminal, bagaimana merencanakan dan merealisasikan sebuah pembunuhan, pemerkosaan, dan kejahatan-kejahatan lainnya tanpa sensor sama sekali. Anak-anak kita akan tumbuh dan merekam semua peristiwa itu dalam hidupnya, bahkan tidak mustahil terpengaruh dan mencoba mempraktekkan ’apa yang mereka tahu’ itu menjadi sebuah aplikasi. Apakah kita masih tetap diam?
Coba perhatikan acara sahur hampir di semua stasiun televisi, di bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmah ini. Semua pelawak kesohor di negeri ini berlomba menarik pemirsa menjadi pembawa acara yang dikemas semenarik mungkin, sedemikian rupa sehingga menarik pemirsa. Dan daya tarik itu akan dirating dan menjadi acuan dasar untuk menentukan harga sebuah iklan dan sebagai suatu strategi untuk menarik sponsor. Namun coba telaah lebih dalam lagi, yang paling menyedihkan bahwa ’materi lawakan itu’ hampir semunya menyorot kecacatan fisik seorang manusia. Para pelawak itu mencari nafkah dengan saling menghina, saling merendahkan, termasuk merendahkan dan menghina diri sendiri. Dan kita menikmati ini sebagai sebuah hiburan, dan anak-anak kita ’meniru’ nya dan mengimplementasikannya dilingkungan dimana mereka berada, yang pada akhirnya menciptakan permusuhan. Padahal ALLAH saja yang telah menciptakan, tidak pernah merendahkan harkat mereka sebagai manusia kecuali memuliakannya. Saya termasuk yang yakin bahwa proses penciptaan manusia itu dilakukan ALLAH dengan maha adil. Jika diformulasikan dengan sebuah hukum fisika-kimia, maka kalaupun berbanding lurus ataupun berbanding terbalik, maka indeks penciptaan manusia itu adalah sama dengan satu dan sangat sempurna. Kalaupun ada yang buta, tuli, bisu, cacat fisik dan lainnya, maka ALLAH telah menganugerahi mereka dengan segala kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia normal. Dan ’kelebihan ityu’ hanya bisa terlihat melalui usaha yang keras, ikhtiar dan doa yang ikhlas. Hal ini pun berlaku pada manusia yang diciptakan sempurna fisik. Semua harus berusaha, berihtiar mencari rizki dan ikhlas menjadi bagian dari sebuah bagian komunitas yang saling membutuhkan.
Di bumi yang fana ini, kita pun harus menyadari bahwa kita tidak bisa sendiri, karena masing-masing individu sangat bergantung pada individu yang lain, untuk itulah proses kehidupan bermasyarakat itu harus didasarkan pada keikhlasan tanpa memandang suku, agama dan ras. Kadang kita tidak sadar ’pintu rizki’ besar kemungkinan dibukakan oleh orang lain, oleh karena itu apa yang dikatakan oleh Pak Andi Estetiono (Direktur PT Permodalan Nasional Madanii BMT) itu sangat patut kita camkan, bahwa kaya itu sebetulnya bukan diukur berdasarkan besaran materi, melainkan lebih pada aplikasi banyak memberi, dan ’memberi’ tidak harus dalam satuan uang, karena bertukar pikiran, memberikan inspirasi, membukakan pintu rizki dan meluangkan waktu bagi orang yang membutuhkan, sudah memenuhi syarat bahwa ’kita telah menjadi orang kaya’.
Apa yang kita lakukan untuk ’pemuda masa depan’ Jupiter adalah salah satu jalan menuju kesana, dan saya tak henti-hentinya mengajak kita semua utuk membantu pengobatan ibunya, kalaupun tidak turut mendokan sudah lebih dari cukup. Dari seorang pemuda yang ikhlas ini, kita bisa berkaca, betapa pentingnya meluangkan sedikit dari rezeki kita, yang sebetulnya ’menjadi hak mereka’.
Kembali ke masalah ’bangsa babu’ tadi, jika kita mampu membangun kembali bangsa kita dari awal, menggerakkan sektor real, mendirikan sekolah-sekolah yang tidak lagi menghasilkan lulusan yang siap mencari kerja (job seeker), namun siap menciptakan lapangan kerja (job creator), maka secara perlahan kita bisa menghapus image sebagai ’bangsa babu’ dan kita pun semestinya berikhtiar untuk ’mengembalikan hak-hak ALLAH’ dengan memparbaiki semua tatanan hidup, dna itu selayaknya dimulai dari keluarga, dengan mendidik anak-anak kita untuk mencintai semua ciptaan ALLAH, memuliakan, mencintai, mengasihi, tanpa pernah menghina dan merendahkan.
Diakhir tulisan ini, saya menghimbau untuk tetaplah bangga sebagai bagian dari bangsa ini. Karena ’negeri sekaya brunai’ tidaklah sekaya negeri kita. Mereka hanya melihat bangsa kita dari sisi satu sisi saja. Andaikan mereka mau membuka mata, dan jujur pada diri sendiri, maka seharusnya mereka ’menghormati bangsa kita’ yang hingga kini telah melahirkan orang-orang besar, yang selalu menghiasi dan mewarnai rona wacana dunia, dengan prestasi yang gemilang dari sisi pengetahuan dan hal-hal lainnya. Anak-anak kita berulang kali meraih mendali emas di olimpade fisika, matematika dan kimia. Anak-anak bangsa banyak menduduki posisi penting di percaturan dunia sebagai ilmuwan, cendekiawan dan pemikir. Dan negeri seperti Brunai mungkin tidak pernah mencatatkan prestasi putra bangsanya seperti kita. Negara-negara seperti Malaysia, Singapore, bahkan Brunai, bahwa ke ’negeri babu ini’ mereka banyak mengirimkan mahasiswanya untuk belajar di universitas-universitas di Indonesia, dan kemudian dijadikan bekal dan modal besar membangun negeri mereka. Majunya negeri mereka pun juga atas kontribusi yang sangat besar dari bangsa kita. Setiap mereka pasti tahu benar bahwa Menara Petronas yang megah, yang konon jika tinggi menara dimasukan sebagai hitungan akan menjadi gedung tertinggi dunia, yang menjadi ikon kebanggaan Malaya, diarsiteki oleh pemuda Indonesia, alumnus Institut Teknologi Bandung, dan lagu kebangsaan singapura ’Majulah Singapura’ juga hasil karya putra Indonesia. Jadi tidak ada satupun alasan bagi saya untuk tidak bangga sebagai bangsa Indonesia, karena kita tidak di didik untuk hidup dan bergantung pada kekayaan alam, seperti Brunai yang bergantung pada minyak, namun coba kita lihat hingga berapa lama minyak itu mampu menghidupi mereka. Kita selalu bekerja keras, dan cucuran peluh kita telah menyuburkan bumi, sehingga anak-anak kita benar-benar beroleh kehidupan dengan harta yang halal. Lalu ’apakah arti kebanggaan’ bagi sebuah bangsa jika kebanggaan itu ternyata adalah hasil karya bangsa lain. Sepatutnya ’bangsa itu’ malu dan berterima kasih pada ’babu-babu’ yang telah begitu berperan dalam perjalanan hidup keluarga mereka. ’Para babu’ itulah yang memasakkan nasi, mencucikan pakaian mereka, mengasuh anak-anak mereka dan menyuapkan mereka makanan bergizi. Babu-babu itulah yang selalu melindungi anak-anak mereka, dan sesungguhnya ’para babu itu’ jauh lebih berperan dibanding istri-istri yang seharusnya telah dikodratkan untuk menjadi ibu rumah tangga.
40 tahun kemudian, mungkin Brunai akan seperti Timor-Timor, jika tidak mau ’belajar dari bangsa babu ini’ dan kita akan kembali besar sebagai negara agraris yang maju, tidak lagi mengimpor beras dan tidak lagi mengekspor orang. 40 tahun lagi ladang-ladang kita, perkebunan-perkebunan kita, sawah-sawah kita, pertokoan, kampus, dan lapangan kerja yang terbentang luas, akan dihiasi oleh senyuman dan renyah tawa anak-anak gadis kita, pemuda-pemuda mandiri yang perkasa, benar-benar mandiri, dan ikhlas saling membantu, bersama berpegangan tangan menuju kemakmuran hakiki dan ALLAH pun akan memperoleh hak-haknya.
40 tahun lagi, jika negeri yang ’menyebut negeri kita sebagai negeri babu’ jika tak mau berbenah, dan terlena dengan kemanjaan atas kekayaan alam yang tidak diperbaharui itu dari saat ini, benar-benar akan merasakan ’menjadi negeri babu’. 40 tahun lagi kita akan melihat setiap jengkal tanah ditumbuhi oleh padi, gandung, coklat, cengkeh, pala, dan tanaman bernilai ekonomis tinggi dan hutan-hutan yang selalu commit menjaga jumlah kadar oksigen, sehingga putra-putri kita akan tumbuh cerdas berkualitas.
Saya sangat menyimpan harap, Pak Jamil Azzani, Sang Pangeran PROFEC, mau membuka mata mereka, bahwa sebagai bangsa kita menolak disebut ’bangsa babu’ dan paparkan kenyataan 40 tahun ke depan. Dan anda adalah satu bukti konkrit bahwa ’sesunggunya negeri mereka adalah negeri babu intelektual’ karena tidak memiliki orang sehebat anda. Mari kita bangun bangsa kita, menjadi bangsa yang bermartabat, perbaikilah semuanya dan itu dimulai dari diri kita sendiri.
Mohon maaf, mungkin terasa ’agak emosional’ namun sungguh saya mengakhiri tulisan ini dengan seyuman yang teramat ikhlas, terbayang indah ketika berumur 70 tahun nanti, Jika ALLAH berkenan memanjangkan umur, anak-anak kita, cucu-cucu kita, bahkan cicit-cicit kita adalah ’juragan di negeri sendiri’ dan ’juragan untuk negeri babu’. Kalau pun tidak, maka dialam sana kita akan tetap terseyum melihat kebahagiaan dan kemakmuran cucu-cucu kita. Mudah-mudahan hal itu makan membuat mereka menjadi generasi yang bersyukur dan bersahabat dnegan ALLAH.
Salam saya buat anda semua, mari kita jadikan setiap hari adalah HARI YANG TERBAIK! Jangan lagi kita terlena dengan ujaran ’hari esok lebih baik dari hari ini’ karena dalam aplikasinya selalu membuat kita malas, jengah dan tidak bersyukur. Jika kita bisa mengaplikasikan ’HARI INI YANG TERBAIK’ maka semua yang kita lakukan benar-benar maksimal dan terbaik, dan Insya Allah bernilai ibadah karena kita benar-benar bekerja bersungguh-sungguh ’berjihad’ mencari rezeki di Bumi Allah ini. Ingatlah, bahwa belum tentu kita hidup di hari esok, karena kematian itu datang pada waktu yang tidak disangka-sangka.
Untuk Jupiter bersabarlah, yakinlah kita semua di milist ini akan berusaha membukakaan jalan untukmu, anak hebat dari masa depan. Jaga Ibu dan kedua adikmu, sungguh saya bangga padamu. Semoga DIA melapangkan jalan, membukakan ’keikhlasan’ pada setiap orang untuk membantumu. Kalaupun ’takdir berkata lain’ maka hadapilah dengan sabar dan tersenyumlah selalu, paling tidak waktu akan mencatat bahwa sesungguhnya kamu adalah anak yang baik, berbakti dan sangat bertanggung jawab. Hidup ini sangatlah adil, karena jika kamu ’tidak memperoleh hak-hakmu’ selama hidup di dunia, maka yakinlah bahwa ALLAH akan mengembalikan hak-hakmu itu diakhirat. Jadilah anak yang baik, berdoalah dan berusahalah agar selalu berada di jalan yang benar. Hanya dengan itulah, harapanmu mengumpulkan keluargamu menjadi keluarga kembali di surga nanti, akan terealisasi. Jika beban dihatimu terlalu berat, maka tataplah langit, ikhlaskanlah dan biarkan ALLAH mengangkat beban itu ke langit.
”Tidak ada cara lain untuk membuat suatu keadaan menjadi lebih baik, kita harus berubah menjadi lebih baik. Hari ini akan tetap seperti hari kemarin, jika kita tidak melakukan apa-apa”.

Kenang-Kenangan Hidup

Teruntuk sahabat-sahabatku:
Fahri Saleh, Bilhan Alfredo Elsafan Pattikawa, Salmon Haumahu, Restia Christianti, Peter Sahupala, Domilda Pesurnay, Andi Fredriksz, Rnyelda Latuheru, Salnida Yuniarti Lumbessy, Syamsuddin Wagola, Eugene Feni Ririmase, Steven Sitanayah, Hery Liana, David Choose Tulak, Marselina Huliselan, Lilian Loppies, Johana Lisapaly (alm), Yani Ekawati Moyo (alm), Junaided Latuhamallo, Andreas Risakota, Amsar Bakhtiar, Carolina de Fretes, dan semua sahabat alumnus SMP Angkasa Ambon (1988), SMA Negeri 3 Ambon (1994) dan semua yang ada dalam kenangan.
Ternyata tulisan saya yang diberi judul ‘Kenang-Kenangan Hidup memberi reaksi yang sangat luas, dan Puji syukur hampir semuanya positif. Beberapa diantaranya meminta saya memberikan beberapa catatan diakhir tulisan sebagai buah pikiran, yang mudah-mudahan bias menjadi solusi. Namun karena keterbatasan pengetahuan saya pada Agama, akhirnya catatan itu hanyalah ujaran dari pokok-pokok pikiran.
Dari ‘Bumi Jihad’ Ambon, dimana saya kini berada, kembali saya rilist tulisan ini dengan revisi disana-sini. Mudah-mudahan dari sini kita bisa belajar, bahwa selama kita mau menjalankan semua ajaran langit, berdasarkan keyakinan yang kita miliki, maka kedamaian ada dimana-mana. Dan jika kedamaian itu diracik dengan ketulusan, kebersamaan dan penuh rasa syukur, maka alangkah indanya hidup ini.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk temen-temen saya, yang ‘telah syahid’ di Bumi Jihad, yang jumlahnya hampir tak terhitung. Namun kenangan mereka selalu hidup dalam ingatan saya sepanjang hayat. Semoga di syurga kelak kita bisa bertemu, dan kembali bersahabat. Dan persahabatan kita saat itu, HANYA KARENA ALLAH!
Hari ini lebaran!.
Sebuah hari yang dijanjikan dan dianugerahkan ALLAH hanya bagi orang-orang yang menang. Dan siapa orang-orang yang menang itu? Hanya ALLAH saja yang tau, karena manusia tidak memiliki kekuasaanuntuk menilai sebuah ibadah, keikhlasan dan segala sesuatu yang menyangkut aturan termasuk shalat, puasa, zakat dan haji.
Bagi setiap insan dan hampir setiap muslim, Idul Fitri itu adalah sebuah hari yang begitu dinantikan, puncak dari sebuah penantian bagi orang-orang yang sebulan penuh menahan segala napsu, termasuk didalamnya menahan haus dan lapar. Namun apakah setiap orang yang sukses melewati 30 hari berpuasa itu secara online dapat dikatakan telah kembali ke fitrah? Hanya ALLAH yang tahu, karena dialah yang memiliki kekuasaan atas manusia, bumi dan langit. Sungguh ALLAH itu maha baik, dan DIA menyukai hal-hal yang baik.
Tuan-tuan yang mulia,
Idul Fitri, hari kemenangan dan penuh dengan kemuliaan itu telah menorehkan catatan tersendiri dalam hidup saya. Catatan itu tertoreh melekat dalam dasar jiwa, menjadi catatan hidup, kenangan dan ingatan sepanjang hayat. Hingga kini saya masih menyimpan harap, agar catatan itu diakhirat nanti ’menjadi bahan obrolan’ dengan si pemilik hidup, ALLAH AZZA WAJA’LA. Cerita berikut ini, saya ambil dari catatan tentang kejadian Idul Fitri 7 tahun lalu di kota Ambon yang diwarnai kerusuhan. Banyak yang bisa kita petik dari kejadian itu, dan mudah-mudahan ada marifat yang bisa diambil.
Dan tak bosan-bosannya, saya mengajak anda semua untuk membantu Ibunda Jupiter, yang sedang Berjuang melawan Kanker Hati. Bayangkan disaat hari yang fitri, kita bergelimang dan memiliki kelebihan rezeki... disuatu tempat yang jauh ada seorang anak yang berjuang untuk Ibu dan kedua adik perempuan yang sangat dicintainya. Saatnya kita membuka nurani kita untuk membantu sesama dan menafkahkan harta yang kita miliki di jalan yang seharusnya. Dan saya yakin ALLAH akan membalasnya, sebanyak yang DIA janjikan. Bantulah Jupiter menyelamatkan Ibunya, karena Ibu bagi mereka begitu besar artinya dibanding apapun di dunia. Dan saya akan berterima kasih jika ada yang ikhlas membantu, paling tidak dengan doa.
Ambon 19 Januari 1999, Idul Fitri Ref......
Ketika itu usia saya masih tergolong belia, baru 22 tahun. Tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir di Institut Pertanian Bogor dalam tahap menyelesaikan skripsi. Lebaran itu adalah hari yang begitu ditunggu, dan biasanya perkuliahan dilalui dengan penuh ketidaksabaran ingin segera pulang menemui Ibu, ayah, saudara, tetangga, saudara dan temen-teman bergelut dimana berama mereka saya menghabiskan masa kecil dan tertawa lepas selepas lautan lepas. Dan untuk sampai ke rumah pada mas aitu butuh waktu dan perjuangan yang ’tidak mudah’ karena harus berjuang mendapatkan tiket kapal, yang jarak tempuhnya empat hari – empat malam dari Tanjung Priuk ke Pelabuhan Yos Sudarso Ambon dengan kapal laut. Pada masa itu mudik dengan pesawat adalah sebuah kemewahan yang nyaris tidak terjangkau pada kalangan mahasiswa yang berasal dari kalangan biasa saja seperti saya, dan kalaupun ada yang pulang dengan Garuda, Merpati, Mandala ataupun Sempati Air, maka sungguh dia pasti berasal dari kalangan yang sangat terpandang di Ambon. Namun bagi saya perjalanan itu menjadi ’amazing experience’ karena mendapatkan begitu banyak teman baru dari berbagai ragam kalangan dan setiap kapal merapat di kota pelabuhan yang disinggahi, Surabaya, Makassar dan Bau Bau. selalu ada waktu 2-4 jam bagi kami untuk berpesiar bersama orang-orang yang baru dikenal dengan penuh persahabatan. Bersama-sama melihat kota-kota yang permai itu, beli baju di Surabaya, Beli markisa di Makassar dan Makan ikan bakar yang segar dan lezat di bau-Bau. Bahkan ’perkenalan’ itu berpeluang besar menjadi sebuah persahabatan bahkan persaudaraan yang sangat ikhlas, tercermin dari surat-menyurat dan hubungan telepon yang dilakukan pasca pertemuan. Bahkan suatu masa terealisasi tulusnya persaudaraan itu dengan silaturahim yang terjalin ketika saling berkunjung, rumah mereka adalah rumah saya dan sebaliknya. Indah bukan?
Kapal yang ditumpangi pada masa itu ’bukanlah kapal sembarangan’ karena pada masanya kapal itu merupakan kebanggaan setiap orang yang menaikinya. Bahkan kapal itu adalah kebanggan negeri ini karena kemewahan dan kegagahannya. Kebesaran ’armada’ itu tergambar dari nama-namanya yang diambil dari nama-nama gunung tertinggi di negeri ini, KERINCI, KAMBUNA, DOBONSOLO dan RINJANI. Dan dikapal itu ada kelas-kelasnya, dan masing-masing kelas dibedakan dari jumlah penumpang dalam kamar, fasilitas layanan dan makan. Dan adalah kenyataan bahwa ’peng-kelasan’di kapal juga mempengaruhi pergaulan di kapal. Kelas terbaik di kapal itu adalah kelas I, dengan kamar yang sangat luas, berpenghuni dua orang, kamar mandi pribadi, televisi, dan fasilitas makan pagi-siang-malam yang bisa diantar ke kamar. Kelas yang paling rendah adalah Kelas IV, dengan kamar yang dihuni oleh 8 orang, kamar mandi d luar yang digunakan ’berjamaah’ dengan kamar yang lain, namun makan di ruang makan yang cukup baik tanpa antri. Dibawah kelas IV ada sebuah kelas namanya Kelas Ekonomi, dimana penumpangnya ditempatkan di sebuah barak mirip militer, dan satu barak itu ditempati kira-kira 400 orang, dan penumpang kelas ekonomi ini juga diberi makan layaknya tahanan, ngantri berjejer ratusan meter melingkar dan piring makannya pun persis seperti piring makanan tahanan. Untuk mendapatkan makan saja perlu antri paling sebentar 1 jam Dan pada jam-jam mandi suasana kamar mandinya persis seperti suasana permandian ’di pancuran’ Rame! Dan jorok! Terbayang hiruk pikuknya kehidupan selama 4 hari – empat malam disana. Kasar, kotor dan keras! Karena setiap orang harus menjaga barangnya sendiri, dan lenggah sedikit berarti kehilangan harta. Jadi sangat beruntung orang yang berangkat tidak hanya sendiri, apalagi serombongan! Jadi setiap waktu ketika jenuh melanda bisa jalan-jalan mengelilingi kapal tanpa kuatir barang hilang.
Pada masa itu, kami keluarga yang cukup berada dan terpandang di desa Tawiri, Kecamatan teluk Ambon Baguala, Kotamadya Ambon. Jaraknya 40 kilometer engan perjalanan darat, namun kurang dari 3 Km dari perjalanan laut karena diseberang teluk dimana kami tinggal adalah Kota Ambon. Dibanding temen-teman seasal yag bahkan ada tidak bisa pulang sampai lulus karena keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan, saya termasuk anak yang beruntung. Sesulit-sulitnya keadaan, Ibu selalu mengirimkan saya uang untuk pulang ke ambon setiap liburan semester dan Idul Fitri. Betapa Ibu, tahu bahwa anak lelakinya ini berusaha melewati hari-hari menahan rindu padanya. Hampir setiap dua minggu Ibu mengirim surat bercerita tentang keadannya yang ’selalu baik-baik’ saja dan menceritakan betapa beliau sangat rindu pada saya.
Membaca surat Ibu benar-benar selalu ’mengharu biru’ karena ketika membaca surat Ibu, seakan-akan Ibu bicara langsung pada saya dan menatap dengan penuh rindu dan cinta. Dan sebulan sekali Ibu mengirimi saya rendang, dan setiap memakannya, air mata mengalir karena ’rendang’ itu adalah makanan yang jarang ada dirumah dan memakannya adalah sebuah kemewahan. Memang harus saya akui bahwa saya sangat mengasihi perempuan berhati mulia itu, dan sepanjang hidup saya selalu merindukannya. Tak ada yang lebih membahagiakan saya selama hidup di Bumi ini kecuali bertemu dengan Ibu sepanjang hari, mencium tangan, pipi dan keningnya ketika pamit kerja dan melihatnya tersenyum bahagia. Kelak jika ada rezeki dari ALLAH, saya ingin mengajak Ibu naik haji, berkunjung ke rumah ALLAH, dan di depan ’rumah-NYA saya berdoa, ’Ya ALLAH, panjangkan umurnya, bahagiakanlah hidupnya, jauhkanlah dari sakit dan susah’.
Ibu tahu kondisi kapal, maka Ibu selalu mengirimkan uang untuk membeli tiket kelas IV yang waktu itu seharga Rp 152 Ribu, kalo dibanding Kelas Ekonomi Rp 66 Ribu cukup signifikan berbeda. Sebetulnya sangat mewah karena makannya teratur tak perlu antri, kamar mandinya bersih, tempat tidur yang ’tak berebut’ dan yang penting barang bawaan aman karena setiap orang diberi lemari yang memiliki kunci. Namun hal yang satu ini, saya terpaksa tidak menuruti keinginan Ibu dan lebih memilih bejubel naik Kelas Ekonomi, karena saya sangat tahu betapa uang itu penuh dengan keringat dan air mata Ibu. Dan selisihnya Rp 96Rb bisa saya belikan oleh-oleh buat Ibu, dan saudara-saudara saya. Hingga kini Ibu tak pernah tahu hal ini, karena memang saya simpan rapat-rapat. Namun bukan hanya itu, saya sangat menikmati kebersamaan di barak itu, mengenal banyak orang, melatih kesabaran puasa dengan menjadi bagian dari antrian makanan yang beratus meter itu, saat sahur dan berbuka. Bersilaturahim dengan semua umur, dan alhamdulillah saya menikmati perjalanan itu dan ’menjadi artis’ karena selalu dikerubutin penumpang, terutama kalangan Ibu-Ibu dan para gadis.
Namun ’keajaiban-keajaiban’ muncul di barak itu. Menjadi kesayangan semua orang, para Ibu selalu menawarkan makanan yang mereka bawa dan kalaupun antri, banyak yang mau mengantrikan makanan buat saya. Barang-barang bawaan saya pun aman, karena dijaga oleh empat ratus orang! Hahahaha!.... fasilitas yang jauh melebihi kelas apapun di kapal itu, karena ketika sahur, berbuka dan taraweh selalu dijalani bersama-sama dengan orang-orang yang ’mendadak saudara’. Hari-hari itu indah dalam kenangan, penuh dengan tawa, canda dan cerita. Dari sana saya banyak belajar tentang hidup yang sesungguhnya, dan belajar bagaimana mengatasi setiap problema hidup.
Saya ingat benar pernah dalam suatu perjalanan kapal, saya bertemu dengan sepasang suami istri yang umurnya berkisar 50 tahun. Mungkin karena ’kondisi penumpang yang sangat berjubel’ mereka tidak kebagian tempat tidur. Karena ’tidak tega’ saya menawarkan tempat tidur yang saya peroleh dengan susah payah tadi, dan membujuk ’teman seranjang’ untuk mengikhlaskannya. Nama ’mendadak teman itu’ Andi Muhammad Hatta, seorang lelaki seumur yang berasal dari Takkalar. Dengan riang, kami bertukar tempat, dan membantu memindahkan barang kedua orang tua itu. Jadi pada malam itu resmi kami hijrah dari kasur yang hangat ke tikar yang dingin, namun kami tetap riang. Ternyata ’pengorbanan’ kami sepertinya dibayar mahal oleh kedua orang tua tadi. Hampir setiap saat beliau mengantarkan kami makanan, minuman dan buah-buahan. Saya berusaha mencegahnya, dan mengingatkan mereka bahwa mereka memerlukannya. Namun sepertinya mereka tidak perduli dan tetap mengirimkan kami makanan itu setiap harinya dan saya yakin semua yang diberikan pada kami adalah makanan yang ’berkelas dan mahal’. Saya jadi berfikir sendiri karena ini memperkuat dugaan ’mereka bukan orang sembarangan’ dilihat dari koper yang mereka miliki, pakaian yang mereka pakai, dan makanan yang mereka punya’. Diakhir cerita barulah terungkap ketiaka berpisah, penumpang istimewa itu adalah Bupati Maluku Tengah, yang tidak kebagian tiket pesawat bahkan ’tiket kelas I-IV’ di kapal itu. Sejak itu, persahabatan kami terjalin, kalau bertandang ke Masohi, Ibukota Kabupaten Maluku tengah’ saya tidur dirumahnya dan diperlakukan layaknya seorang anak. Alhamdulillah ya ALLAH.
Apapun kapal yang saya tumpangi, merapat di pelabuhan Yos Sudarso Ambon, selalu lewat tengah malam. Namun Ibu senantiasa sabar menanti di pelabuhan menjemput, dan ketika melihat saya celingak-celinguk Ibu tersenyum tulus memeluk, air matanya kembali membasahi pipinya yang mulai mengerut dimakan jaman. Pertanyaan pertama yang selalu beliau sampaikan, ’Ref, kamu sehat nak? Sudah makan?’ dan pertanyaan itu ternyata selalu beliau tanyakan hingga kini ketika saya pulang dari kantor bekerja dan ketika sampai kerumah telah terhidang semua makanan kesukaan saya, ikan gulai, rendang dan sup buatan Ibu. Jadi apakah ada alasan bagi saya untuk mengatakan ’ah’ pada Ibu? apakah ada?
Kembali ke awal, tahun 1999 saya tiba di Ambon beberapa hari sebelum Idul Fitri. Namun tahun ini akan menjadi catatan spektakuler sepanjang hayat saya di dunia. Waktu itu kami telah memiliki rumah lain di perkampungan muslim. Nama Desa itu ’Tulehu’ terletak di kecamatan salahutu, 50 Kilometer dari Kota Ambon. Sedangkan rumah yang selama ini kami tempati berada di perkampungan Kristen, bahkan kami adalah satu-satunya warga muslim di perkampungan itu. Namun walau kami satu-satunya muslim, namun keluarga kami sangat dihormati di tawiri, dihormati bukan karena kekayaan namun karena pergaulan dan rasa cinta Ibu pada mereka. Semua orang dengan senang hati membantu Ibu, bahkan tanpa diminta. Setiap musim durian dan musim apapun mereka selalu mengantarkan beberapa ke rumah kami. Rupanya Ibu sudah menjadi Ibu buat mereka, dan ini adalah suatu alasan bagi saya untuk tenang belajar di Bogor, karena Ibu dijaga oleh orang sekampung!!.
Demikianpun di tempat yang baru, Tulehu. Ibu seakan menjadi Ibu orang sekampung, sepanjang jalan beliau disapa oleh hampir semua orang dengan penuh rasa hormat. Rumah kami sama dengan rumah orang sekitar, sangat sederhana ber-dindingkan kayu dan berlantaikan semen yang kasar. Terletak persis di depan masjid, dan rupanya menjadi impian Ibu, dimanapun beliau berada, beliau selalu ingin tinggal di dekat masjid. Ibu memang suka menghabiskan malam dan subuh di masjid. Kalaupun di rumah beliau melakukan Tahajjud di sepertiga malam terakhir.
Ambon, 19 Januari 1999 ....Lebaran Tak Terlupakan...
Hari itu adalah hari yang sangat saya nantikan, pagi-pagi benar kami sudah bangun, mandi dan menggunakan pakaian baru dan bersih. Sholat Id kami tunaikan di depan rumah, bersalam-salaman dengansemua tetangga. Dan moment yang hampir ’tak bisa diungkapkan’ adalah ketika memohon maaf pada Ibu, ayah dan saudara dengan dada yang berguncang penuh sesak, menahan emosi dan air mata. Tapi Ibu selalu bilang, ’sejak kamu lahir Ref, mama selalu memaafkan apa yang kamu lakukan dan akan lakukan’. Tanpa kamu minta maaf pun Mama sudah memaafkanmu. Tak ada lagi yang bisa saya lakukan kecuali memeluk Ibu selama mungkin dan mencium pipi, kening dan rambutnya.
Setelah itu kami pun berangkat ke Kota Ambon, janjian dengan ayah yang berangkat dari Tawiri kemudian bersilaturahim dengan besan, saudara, handai taulan dan kerabat. Suasana pada hari itu memang beda dari biasanya. Berbeda dengan lebaran yang lalu, kali ini terlihat kosentrasi masa dimana-mana, disepanjang jalan Tulehu – Ambon. Bahkan kosentarasi masa itu menumpuk dan menimbulkan tanda tanya dalam diri saya sampai peristiwa itu terjadi. Fakta yang menguntungkan pada waktu itu adalah, ternyata terjadi perbedaan waktu shalat ied antara tulehu dan Ambon. Jika di Tulehu Ied dimulai jam 6 kurang dengan khotbah yang pendek. Di Masjid Al-Fatah Ambon, shalat ied dimulai jam 7 dengan khotbah yang cukup lama. Jadi ketika kami sekeluarga sampai di Kota Ambon, masih dalam keadaan shalat Ied, dan kami memutuskan parkir di depat masjid Al-Fatah sambil menunggu Ayah.
Tak berapa lama ketika sholat usai, atas permintaan Ibu kami langsung menuju ke rumah seorang besan di dekat Al-Fatah. Namun pada sat itulah tersiar khabar bahwa telah terjadi pembakaran dan amuk masa dimana-mana, hampir di deluruh penjuru kota dan desa. Kami terjebak di rumah mertua, dan hanya kami satu-satunya muslim disana karena selebihnya Kristen. Namun ’orang sekampung kristen’ itu melindungi Kami, dan meminta orang-orang Kristen yang lain tidak menyerang kami. Ketika suasana agak reda, Kami dijemput oleh segerombolan tentara dan diungsikan ke Masjid Al-Fatah. Betapa memerikan pemandangan sepanjang jalan. Penuh dengan mayat-mayat yang hampir semuanya muslim, mereka dalam keadaan masih menggunakan perlengkapan shalat, memeluk anaknya dan semuanya masih tergeletak hampir disepanjang lorong, jalan dan got. Hari ini Kota Ambon banjir darah, dan bau mayat ada dimana-mana, Anyir!. Jiwa saya sangat bergetar, dan yang terpikir, dimana Ayah? Dimana Ayah? Ibu berusaha tenang namun saya dan kakak sangat panik. Dan yang lebih panik lagi. Adik perempuan saya, Elida Yanti pada waktu itu dalam perjalanan Tulehu - Ambon. Saya berjalan disepanjang jalan kota, menyelusuri sepanjang jalan, melihat setiap jenazah di kamar jenazah, membalikan yang tergeletak di jalan dengan seksama, bergetar dan berharap tidak ada ayah dan adik peremuan saya diantara jenazah-jenazah itu. Lelah, panik dan pasrah, namun tak ada pilihan kecuali mencari jawaban tentang kepastian kondisi ayah dan adik, karena ketika dihubungi per telepon ke rumah tak ada jawaban.
Rupanya ’keadaan tenang’ pada hari itu hanya berlangsung sesaat. Siang itu meletus kerusuhan yang jauh lebih besar, dan saya berlari ke mesjid menemui Ibu. Dan Alhamdulillah bersama Ibu adik perempuan saya telah ada bersama beliau. Saya menangis karenanya dan kini tugas saya hanyalah mencari tahu keadaan Ayah. Namun kondisi yang genting memaksa saya untuk tidak dapat melakukan apa-apa, kecuali tetap di Masjid Al-Fatah, melindungi Ibu dan adik perempuan saya. Malam itu keluar fatwa Jihad dari Majelis Ulama Indonesia Ambon dan Imam Besar Masjid Raya Al-Fatah. Jadi diwajibkan bagi setiap laki-laki untuk berjihad, karena telah terjadi penyerangan dan saling serang hampir diseluruh penjuru. Pada waktu itu terlihat mayat begitu banyaknya digotong, ada yang hidup tapi dalam kondisi tidak utuh lagi. Ada yang tangannya terpotong, ada yang matanya terusuk dan bahkan ada yang gila karena kehilangan keluarga.
Malam itu, kali pertama saya menjadi manusia seutuhnya, belajar bertanggung jawab dan berperang. Ketika fatwa itu keluar, semua wanita dikumpulkan di tengah masjid, diluar berkumpul semua laki-laki tua dan muda, bersenjatakan apa saja dan siap berperang. Waktu itu saya memegang senjata berupa tombak besi, dan berpatroli keliling kota. Kadang harus berhadap-hadapan dengan segerombolan orang, bertempur tanpa rasa takut mati, karena Ibu-Ibu kami telah mengikhlaskan kami mati di jalan ALLAH. Setiap hari satu demi satu teman mati syahid, kering rasanya air mata ini menangis kehilangan. Pagi tadi kita baru shalat bersama, sahur bersama, siangnya sudah terdengar dia gugur di medan perang. Ada yang siangnya baru berpelukan dan bersalaman. Sejam kemudian dia mati dipelukan karena kehabisan darah karena tombak yang bersarang dipunggungnya.
Pada waktu itu, yang ada dalam pikiran saya hanyalah bertahan dan berjuang. Bukankah ini adalah kesempatan syahid di Jalan ALLAH? Semua teman-teman saya ketika dikuburkan tak lagi dimandikan, karena ALLAH telah memberikan mereka syurga. Dan saya melihat jelas, betapa syuhada itu mati dengan tersenyum, seakan-akan mereka telah melihat syurga seperti yang dijanjikan ALLAH. Setiap kembali ke masjid, saya lihat Ibu dalam keadaan berdoa, ruku dan sujud. Beliau selalu memberikan semangat untuk tidak pernah takut! JANGAN TAKUT REF! Bukankah ganjarannya sangat setimpal dijanjikan ALLAH? Jangan pikirkan Mama karena Demi ALLAH! Mama sangat ikhlas. Tak ada cita-cita yang lebih tinggi kecuali mati sebagai seorang syahid. Lalu adakah yang lebih mulia dari itu? Pada hari itu saya berbicara di hadapan ALLAH, bahwa jiwa dan raga saya telah saya pasrahkan padaNYA. Sejak itulah hampir setiap hari saya maju ke medan perang, bertempur membela keyakinan yang saya yakini. Namun ada sebuah catatan yang hingga kini masih tertoreh di hati, bahwa saya tidak pernah membenci manusia kecuali karena perilakunya. Dan saya tidak pernah membenci orang karena agamanya, karena sedari dulu saya tahu bahwa semua agama itu baik. Jadi perilaku seseorang tidak bisa diidentikkan dengan agama yang dia anut. Apa buktinya? Ketika terjebak di rumah keluarga besan, kami dilindungi oleh Kaum Kristen, Selamatnya adik saya juga karena dilindungi oleh sekelompok pemuda kristen bahkan mereka mengantarkan adik saya ke masjid, dan yang ketiga ayah saya di Tawiri yang notabene satu-satunya muslim di desa itu jiwa dan hartanya dijaga oleh Kalangan Kristen. Jadi apakah agama bisa mewakili perilaku? Mungkin tidak sepenuhnya benar.
Keajaiban – Kejaiban di Bulan Syawal
Banyak keajaiban dan keanehan yang saya alami. Pada setiap pertempuran bahkan berhadap-hadapan dengan musuh, saya selalu selamat seperti ada yang menjaga. Hal yang paling beratpun paling terluka di tangan dan punggung akibat sabetan parang. Namun tak seberapa sakitnya, dibanding apa yang saya lihat terjadi pada teman-teman lain yang syahid. makan yang saya makan pun dari sisi kelayakan dan hiegenis juga sangat buruk, dan lebih sering tidak makan karena saya lebih mengutamakan anak-anak dan perempuan. Adik perempuan saya turut berjuang, mempersiapkan segala seusatunya, bahkan maju ke medan tempur. Kami berdua sering makan makanan yang basi, bahkan kami tak jarang makan daun-daunan yang kami petik dari langsung dari pohonnya, bahkan bunga pun kami makan. Tapi inilah bagian kebesaran ALLAH. Kami berdua tak pernah sakit perut, bahkan tumbuh rasa saling menyayangi dan kesadaran persaudaraan yang begitu dalam hingga kini.
Banyak sekali keajaiban lain yang hingga kini masih menyisakan pertanyaan. Pada suatu saat, saya terbaring lelah di pelataran mesjid bersama adik perempuan saya. Tiba-tiba beduk berbunyi dan kumandang azan bergema, padahal waktu shalat belum masuk. Rupanya pada malam itu Masjid Al-Fatah diserang oleh beribu orang dari empat penjuru mata angin, dari darat dan laut. Pada hari itulah saya merasa bahwa itulah hari terakhir saya hidup didunia, mengingat keadaan yang lemah, dan jumlah musuh yang jauh lebih besar dengan peralatan yang lengkap. Dengan tombak ditangan, saya ciumi adik saya itu dan memintanya menemui Ibu, dan sampaikan pesan bahwa betapa saya sangat menyayangi beliau sebagai pesan terakhir. Malam itu saya maju ke barisan paling depan, tepat di depan pagar masjid bersama pemuda-pemuda berani lainnya. Dan dari dalam masjid, terdengar takbir bergemuruh membelah langit... Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar...La Ilaha Illallahu Allah Akbar...Allahu Akbar Walillah Ilham... berulang bergema, bergemuruh yang menjadi mesiu bagi kami menghadapi musuh yang menyerang. Serangan malam itu sangat dasyat, mereka persis didepan Masjid, berusaha menaiki pagar menyerang penuh dendam, marah dan murka. Namun ketika semuanya ’berjuang pasrah’ menengadahkan tombak, parang atau apa saja, menahan serangan agar tak bisa menerobos hingga ke dalam Masjid yang berisikan perempuan-perempuan, diantara Ibu dan adik perempuan saya. Namun entah kenapa, tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya, semua penyerang itu tiba-tiba lari terbirit-birit seperti dikejar setan, dan saya terdiam masgul. Ada apa gerangan? Apakah ini taktik? Atau.....
Dari beberapa mereka yang tertangkap, terungkap bahwa mereka melihat beribu-ribu tentara berkuda berjubah putih mengelilingi Masjid dan balas menyerang mereka tanpa rasa takut dan pedang terhunus. Hampir seratus orang yang tertangkap berkata sama. Masya ALLAH, rupanya ALLAH telah menunaikan janjinya, menurunkan bala tentara dari langit. Keajaiban lain yang tidak terlupakan adalah ketika tiba-tiba dari kejauhan saya melihat ada bola api yang sangat besar menuju ke Masjid, namun entah kenapa sebelum menyentuh Masjid, Bola api itu kembali keasalnya. Rupanya ALLAH benar-benar menjaga balatentaranya. Sejak itu saya tidak lagi pernah menjadi pengecut, dan tidak pernah mengenal rasa takut terhadap siapapun di dunia. Peristiwa demi peristiwa teah mengajarkan saya menjadi laki-laki pemberani.
Sahabat yang hilang....
Pada peristiwa itu, saya banyak sekali kehilangan sahabat yang selama ini mewarnai keseharian. Teman semasa kecil, teman semasa sekolah dan para handai taulan. Mereka gugur karena ulah sebagian manusia yang telah memicu peristiwa ini. Dua puluh tiga teman sekolah saya ketahui telah gugur dan ini belum termasuk yang tidak diketahui. Walaupun mereka telah tiada, namun kenangan mereka hidup bersama saya hingga kini dan nanti, sepanjang hidup! Diantara mereka ada dua nama yang baru saya dapatkan khabar beberapa bulan yang lalu, yang keduanya adalah sahabat baik saya, Yani Ekawati Moyodan Johana Lisapaly. Dua gadis cantik dan cerdas itu kini damai ’bercanda dan tertawa’ di sisi ALLAH. Semoga ALLAH mengampuni dosa-dosa mereka dan menerima semua amalan mereka, melapangkan kuburnya dan diberi tempat yang indah di surga. Amin.
Hingga kini saya masih mencari khabar tentang sahabat-sahabat saya yang lain, Salmon Haumahu, Yakob Wattimena, Peter Sahupala, Yakobus, Novaro, Irfan, Budi Titiono, Bilhan Alfredo Elsafan Pattikawa, Elok Kusumo, Hamid, La Ode On Zainal Arifin, Rasyid Kadir, Muhammad Ilham, Syarifah Faradilla Binti Thahir, Heldrik, Deddy Rinsampessy, Simon Simau, Andi Fredriksz, Berly Senapati, Wihelmina Lodrigus, Barbara Lodrigus, Petrus Elake, Amshar Bakhtiar, Apri Imam Supi’i dan teman-teman lain yang tak bis asaya sebutkan satu persatu. Apakah mereka adalah salah satu diantara member milist ini? Ataukah anda mengenal mereka? Sungguh betapa rindu saya pada mereka.
Jodoh itu ditangan ALLAH, Ref...
Ketika di SMA dulu, saya begitu mencintai seorang gadis. Dia wanita yang sholeh lagi cerdas, selalu menduduki rangking pertama di kelas Fisika. Saya begitu mencintainya, demikian pun sebaliknya. Ketika akan kuliah dulu, saya berjanji ketika tiba waktunya saya akan menikahinya, menjadi Ibu dari anak-anak saya, dan wanita yang akan mengantarkan saya ke syurga. Dia adalah gadis paling cantik sekaligus paling cerdas di sekolah. Pujaaan hampir semua laki-laki, dan diantara semua laki-laki saya adalah yang paling beruntung bisa beroleh kasih dan cintanya. Setiap pulang liburan ke ambon, saya selalu singgah ke rumahnya melepas rindu. Ayahnya sangat menyayangi saya, pun Ibunya. Mereka bahkan berharap agar kami segera menikah, namun saya mmemberikan jaminan pada keluarganya bahwa kelak ketika sudah ada kemampuan dan usai kuliah, saya akan melamarnya.
Waktu berlalu, ketika kerusuhan hingga pasca kerusuhan, saya kehilangan kontak dengan dia. Rumahnya porak poranda terbakar, dan keberadaan mereka tak tau rimbanya. Apakah telah tiada atau sedang berada dimana. Tak kenal lelah saya mencari khabar tentangnya, lewat semua kenalan, teman yang tersisa, bahkan lewat radio. Putus asa rasanya, hingga suatu hari ada yang meyakinkan saya, bahwa jika memang jodoh pasti ALLAH akan pertemukan, dan jika itu hak saya, maka ALLAH akan mengembalikan hak-hak itu. Sejak saat itu saya hanya menanti, rasanya tak ada wanita satupun yang bisa menggantikan dia di hati saya, bahkan hingga kini!.
Untuk menghabiskan waktu dan mencari pekerjaan sampingan, karena pada saat itu saya meminta Ibu tidak lagi memikirkan uang buat saya, karena saya akan berusaha mencari sendiri. Saya bekerja sebagai pelayan di cafe-cafe di Bogor, menjadi tenaga penjual di sebuah toko komputer, dan mengajarkan les fisika-kimia-matematika buat anak SMU. Lumayanlah, jika ditambahkan dengan beasiswa, Alhamdulillah lebih dari cukup. Dan tak lupa saya kirimkan Ibu, yang telah menjadi Inspirasi hidup utama dalam hidup saya, disamping sang pujaan hati.
Mungkin sudah menjadi suratan takdir, ketika saya sudah bisa melupakannya, terjadi sebuah keajaiban. Suatu ketika, 5 tahun pasca kerusuhan, saya sedang mencari sebuah buka di Kampus IPB Baranangsiang. Di kampus itu ada sebuah tempat yang sangat populer sebagai DPR (Dibawah Pohon Rindang) tempat mahasiswa bercengkrama dan membeli buku bajakan ’dengan harga terjangkau’. Ketika saya sedang ’membaca buku yang dicari’ tiba-tiba ada suara lembut menyapa persis disamping saya...Ref...ini Iref bukan?. Semula saya abaikan karena memang sudah tak asing dimana-mana orang menyapa saya di kampus (Narsist Bgt!!) karena memang saya cukup populer di IPB. Namun entah kenapa hati ini bergetar kencang, dan sepertinya ’sangat mengenal’ suara itu. Dengan ragu saya meoleh ke samping, dan disana berdiri seorang gadis berjilbab panjang, dengan rona wajah yang cantik merona, sholehah dan cerdas.
Antara percaya dan tidak, saya berteriak kaget. Rupanya dia adalah perempuan yang selama lima tahun saya cari-cari, karena memang saya mencintainya. Tanpa pikir panjang saya tarik tanggannya dan membawanya ke sebuah tempat yang nyaman. Tak henti-hentinya air mata ini mengalir karena rindu dan cinta yang lama terpendam. Begitupun dia, sepertinya dia pun selalu mencari saya selama lima tahun itu. Kami bercerita sangat lama, namun saya hampir tak percaya, ketika dia bilang bahwa besok pagi dia akan menikah di masjid Al-Huriyah, Kampus IPB darmaga Bogor, dengan seorang pemuda Sumba. Saya menangis dan nyaris putus asa. Namun, dia menggenggam tangan saya dan berkata bahwa Jodoh itu sudah diatur dari langit, dan mungkin apa yang terjadi pada waktu itu sudah bagian dari skenario langit, dia berkata tetaplah mencinta sebagai sesama makhluk ALLAH. Dia meminta saya menghadiri pernikahannya besok pagi dan meminta saya menjadi saksi pernihkahan itu. Permintaan pertama saya kabulkan, namun yang kedua dengan berat hati tidak bisa, dan dia maklum. Keesokan harinya saya menghadiri pernikahan itu, namun tidak lama karena ’saya tidak tahan’. Namun lama kelamaan saya bisa menerima seutuhnya keadaan ini. Cinta itu tidak selamanya memiliki.
Tafsir Al-Misbach Metro TV, 20 Oktober 2006
Acara sahur yang paling saya sukai adalah ’Tafsir Al-Misbah’ (nulisnya benar ga wan!) di Metro TV dan ’Jejak Rasul’ Trans TV. Tafsir Al-Misbah dibawakan oleh ahli tafsir terbaik yang dimiliki oleh negeri ini, dikenal dengan ketinggian pemahamannya tentang Al-Quran, kesederhanaan penyampaian dan sangat rendah hati. Prof Dr Quraish Shibab, seorang ulama dimana saya meletakkan kekaguman yang teramat tinggi dan dalam atas pengetahuan yang beliau miliki, terutama tentang penafsiran Al-Quran. Kalau boleh jujur, ketertarikan saya membaca dan mempelajari Al-Quran dan mendalami agama sangat dipengaruhi oleh ceramah beliau di berbagai media, dan buku-buku beliau yang saya baca. Salah satu yang selalu saya baca, bahkan berulang-ulang adalah LENTERA HATI. Sungguh buka itu telah merubah pemahaman saya tentang agama yang saya anut.
Suatu pagi Jumat, 20 Oktober 2006 seperti biasa saya duduk terpekur didepan televisi menonton tayangan yang spesial itu, memahami dengan kagum dan setiap ujaran Bapak Quraish Shihab selalu menjadi renungan. Pagi itu dibahas tentang Quran Surat Al-Baqarah tentang Zakat. Dalam bahasan pagi itu, yang juga merupakan penekanan dari ayat-ayat yang dibahas pada hari-hari sebelumnya, beliau menekankan bahwa ‘agama bukanlah faktor halangan bagi setiap muslim untuk beribadah, karena itu adalah urusan ALLAH. Bahkan beliau menyatakan bahwa umat selain muslim pun berhak beroleh zakat, jika memang mereka tidak mampu. Dan kita umat muslim wajib mengasihi setiap umat apapun agamanya, tidak menebar kebencian dan hidup dengan mereka penuh damai dan cinta. Indah bukan?
Mungkin inilah yang membedakan tentang penyampaian sebuah materi dari seorang yang ahli-menguasai dan orang yang ‘mengaku ahli’ padahal dia hanya mengetahui ‘sebagian kecil’ dari sebagian kecil. Analoginya sama kalau kita membaca sebuah buku terjemahan Manajemen Pemasaran. Secara pribadi saya lebih senang membaca buku apapun dalam bentuk original text dibanding terjemahan, karena membaca buku asli itu jauh lebih mudah dimengerti. Saya sangat sering menemukan ’banyak perbedaan penafsiran’ pada buku terjemahan, apalagi yang diterjemahkan oleh orang yang ’tidak memiliki keahlian sama sekali’ atau ’hanya memiliki sebagian keahlian dan pemahaman’ sehingga mereka menerjemahkan secara ’sesat’. Sangat disayangkan jika seorang pemasar pemula mengawali pengetahuannya dengan membaca buku terjemahan! Sekalian melatih kemampuan Bahasa Inggris. Jadi, sekali meregkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui khan?
Jadi banyak sekali orang ’dengan pemahaman sebagian’ bertebaran di muka bumi ini, dan mereka-mereka sangat mendominasi kehidupan, dan menjadi decision maker dimana-mana. Apalagi di negara seperti Brunai Darusalam, bahkan perkataan Sultan setara dengan undang-undang, maka tak adalagi yang mengingatkan, walau ’titah itu sesat’ maka jadilah sepanjang hayat pemerintahan ’sang sultan mereka melakukan ’kesalahan berjamaah’ dalam kurun waktu yang lama, dan kesalahan itu telah menemukan pembenaran, bahkan menjadi budaya di seantero negeri.
Maka, dapat saya tarik hipotesa pertama bahwa berbagai kejadian, kerusuhan, kesalahpahamanyang terjadi di negeri kita, dalam satu dekade terakhir ini, mungkin diakibatkan oleh ’segerombolan orang’ yang mempelajari agamanya dengan sepotong-sepotong, mencari pembenaran dan menerapkannya secara keliru. Saya sangat yakin, tidak satu agama pun, terutama Islam, yang membenarkan pembunuhan, dan penghilangan nyawa seseorang karena alasan yang tidak kuat? Jika alasan itu kuat, terutama karena fatwa ulama, seperti apa yang terjadi di Ambon 7 tahun yang lalu, maka ini ’dapat dibenarkan’ secara hukum peperangan dalam Islam, karena sudah ada korban yang jatuh, penyerangan, pembunuhan, perampasan, pemerkosaan dan penindasan pada salah satu ’golongan umat’ yang sedang merayakan Idul Fitri, sebuah hari kemanangan yang memang diperuntukkan bagi orang yang menang.
Diam itu Emas Ref.....
Andai saja ’peristiwa Ambon Kelabu’ itu tidak terjadi pada Idul Fitri, maka mungkin akan lain ceritanya, bahkan saya sangat yakin akan sangat sulit meyakinkan setiap orang, bahwa ini adalah masalah agama. Namun ’segelintir orang itu’ berhasil memanfaatkan keadaan, dan siapa mereka? Siapapun mereka, sungguh ALLAH telah menghitung setiap perbuatan itu dan diberikan azab yang setimpal.
Banyak sebenarnya cerita-cerita lain tentang ’peristiwa Ambon Kelabu’ itu, masih sangat banyak... namun saya khawatir makin lama, makin tidak proporsional, karena melibatkan emosi. Dan saya termasuk orang yang hingga kini memegang prinsip, bahwa jika dalam keadaan emosi, maka lebih baik diam. Demikian pun dalam mengambil keputusan, jangan dalam keadaan marah! Kaerena lebih banyak mudharatnya daripada maslahatnya.
Koreksi dari seorang pemasar......
Saya adalah seorang pemasar, namun lebih senang disebut sebagai seorang researcher. Sama halnya dengan ’pembenaran agama’ atas sebuah tindakan yang sesungguhnya tidak dapat dibenarkan, maka menjai seorang researcher adalah ’panggilan hidup’ bagi saya, karena ’terpanggil untuk beribadah’ meluruskan koridor-koridor riset yang selama ini menjadi ’ajang pembenaran’ bagi semua pemasar unruk mengambil keputusan, mengkaji ulang strategi, dan afiliasi akhir pada segala tindakan, implementasi pada total aktivitas yang berkaitan dengan produk di lapangan. Ketika menjadi researcher di sebuah PMA (beverage) saya sangat banyak menemukan bahwa riset-riset yang dilakukan oleh sebagian besar lembaga riset di negeri kita, lebih cenderung ’mencari pembenaran’ dan selalu mengambil ’cara-cara aman’ untuk tujuan bisnis dan memuaskan perusahaan pelanggan. Namun bagi saya, riset pada sebuah perusahaan adalah ’sangat vital dan strategis’ karena nasib sebuah perusahaan sangat bergantung pada pekerjaan-pekerjaan riset, yang tentunya akan menjadi ’layar kapal’ yang akan membawa perusahaan itu ke laut yang tenang.
Kembali ke bahasan awal. Lalu, apa yang terjadi dengan kehidupan beragama kita? Saya termasuk orang yang prihatin dengan berbagai perkembangan Islam di Indonesia. Sangat banyak ’kegiatan Islam’ yang cenderung ’mencari pembenaran’, ’bersifat riya’ dan mungkin lebih banyak mudaharatnya daripada ma’rifatnya. Lihatlah fenomena muncul akhir-akhir ini dalam aktivitas dakwah Islam. Kalau dulu menjadi dokter dan insinyur adalah cita-cita dengan ’Best Top of Mind’ maka sekarang hampir mungkin cita-cita menjadi ’Dai’ atau ’Mendadak Ulama adalah harapan hampir setiap orang. Maka bermunculan lah banyak sekali ’Dai Populis’ yang ketika dia berceramah, orang lebih menikmati ’keahlian dia berceramah’ dibanding materi yang diceramahkan. Bahkan bisa diduga, kemungkinan mereka hanya menikmati ’retorika sang Dai’ tanpa tahu sama sekali apa yang disampaikan. Menyedihkan bukan?
Lihatlah lagi ’aktivitas-aktivitas Riya’ di Televisi, ajang pencarian dai berbakat, dai cilik, bahkan ’sebuah reality show pembangunan masjid’ bukankah ini adalah hal-hal yang sebetulnya RIYA? Sebuah ibadah akan hilang pahalanya, bahkan kemungkinan malah berdosa, jika ibadah itu tidak karena ALLAH. Namun lebih karena tujuan-tujuan ’ingin populer’ dan bahkan menjadi Dai saat ini lebih dikarenakan ’unsur harta’ daripada pengabdian. Cobalah lihat sinetron yang sedang in di bulan ramadhan ini, Hidayah dsbnya. Thema yang dibawakan mengajak orang untuk kembali ke jalan yang lurus. Namun coba perhatikan dan simak alur ceritanya, maka dapat saya duga bahwa alur ceritanya ’sangat dibuat-buat’ bahkan tidak ada hikmah yang kita peroleh dengan menonton sinetron-sinetron itu. Bagaimana bisa? Lah... Bagaimana mungkin bisa dapat hikmah, jika ’keluarga sholeh yang diperankan’, ’peran suami-istri’ diperankan oleh ’mereka yang bukan muhrim? Lihatlah merteka berpelukan, berciuman bahkan tidur seranjang, padahal mereka bukan muhrim! Bukankah yang kita lakukan ini dapat memancing kemarahan ALLAH? Atau memang kita sedang membuka front ’menantang ALLAH’?
Mungkin krisis yang berkepanjangan di negeri ini adalah akibat dari perbuatan kita sendiri, yang tidak pernah bersyukur. Kita melalaikan apa yang menjadi Hak-Hak ALLAH, kita mengabaikan perintahNYA dan mengerjakan laranganNYA, menjadikan kewajiban sebagai hak dan menjadikan hak sebagai kewajiban. Menyedihkan memang, di negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia, seharusnya bangsa kita adalah bangsa yang paling besar diberi Rahmat oleh ALLAH. Namun adalah sebuah fenomena, bahwa kita adalah negara yang kuantitas muslimnya terbesar namun tidak dengan kualitas.
Sudah saatnya kita mengembalikan semua yang ada ke posisi semula, mengembalikan apa yang menjadi Hak-Hak ALLAH, dan berhubungan dengan sesama makhluk dengan lebih tulus. Jangan lagi kita mengukur semuanya dengan Uang, percayalah ALLAH akan ganti semua kerugian kita di dunia dengan kebahagiaan di akhirat. Sebuah transaksi yahng hebat bukan?
Pesan Terakhir.....
Saya pamit menjemput Ibu ke Padang dan pulang ke Ambon. Melepas rindu, bertemu teman-teman dan tetangga yang selama ini menjaga rumah kami. Saya sangat mencinta semua orrang, apapun agamanya dan apapun keadaannya. Karena saya sangat yakin bahwa agama apapun tidak pernah mengajarkan hal-hal yang buruk. Kalaupun itu ada, maka itu penuh karena akhlak manusianya. Cukup ALLAH yang tahu dan menilai hal ini, karena sebagai manusia kita tidak memiliki hak mengadili sesama manusia.
Saya berencana beriarah ke makam ayah, membersihkannya, dan berdoa didepan pusaranya. Orang yang begitu saya cintai dan rindukan hingga kini. Penyesalan saya hanyalah belum sempat membahagiakan beliau di dunia. Mudah-mudahan ada waktu di akhirat kelak.
Saya juga rindu pada deburan ombak Laut Banda, rindu makan ikan bakar, udang goreng. Berbincang dengan masyarakat yang baru pulang melaut, bertemu gadis-gadis kecil yang ketika saya datang mereka berteriak-teriak gembira embari berujar..Om Irep pulang....Om Irep pulang!!! Rupanya keponakan saya di Ambon lebih dari seratus orang! Hehehehe, luar biasa!
Saya rindu pada semerbak bau laut, bau cengkeh dan aroma kayu manis di pulau yang sangat permai ini. Rindu menyelusuri jalan, yang kiri-kanan adalah hamparan pemandangan yang indah. Suatu waktu, kita ramai-ramai kesana berdarmawisata , dan saya akan jadi pemandu yang baik dan saya jamin perjalanan itu akan sangat menyenangkan dan aman.
Kita akan bermain ke Pulau Banda, dan menyelam disana. Anda akan melihat hasil karya ALLAH yang maha indah, sebuah keindahan terumbu karang yang konon terbaik di dunia. Anda bisa berenang dengan kura-kura raksasa, dan berpacu cepat dengan lumba-lumba. Kita akan awali melihat matahari terbit merona merah di Timur, dan kita akhiri ketika raja siang itu tenggelam di Barat. Saya yakin, anda semua pasti akan merindukan suasana itu dan ingi mengulang kembali.

Bogor, 21 Oktober (Ramadhan) 2006

Re-segmentasi Strategi Segmentasi

Sudah sejak lama konsep segmentasi digunakan didalam praktik pemasaran bisnis moderen. Semua pemasar sudah sangat mahfum dengan konsep ini dalam tataran konsep dan implementasi. Dalam pengertian yang sederhana, segmentasi menyangkut serangkaian upaya mengelompokkan pasar, dan konsumen dengan tujuan untuk meraih profit yang maksimal dari kegiatan bisnis yang dijalankannya. Secara konseptual, pemasar akan mulai mengidentifikasi segmen pasar, dengan menggunakan sejumlah variabel tertentu apakah itu identifier variables seperti demografik, psikografik dan response variable seperti harga, promosi dan fitur. Kemudian langkah berikutnya memilih segmen yang layak untuk dijadikan target, dan akhirnya melakukan positioning pada target segmen tersebut dengan menggunakan 4 P’s yakni product, price, place (distribusi) dan promotion yang lazim dikenal dengan marketing mix. Apapun variabel yang dipakai dalam segmentasi, asumsi nya tetap sama: bahwa setiap orang dalam kelompok akan berperilaku sama dan memberikan respons yang sama.
Dengan semakin galaknya persaingan, perusahaanpun akan berlomba untuk melakukan segmentasi secara tajam. Konsekuensinya target pasar yang terbentuk semakin kecil. Dengan semakin kecilnya target pasar akan membawa implikasi bahwa pertumbuhan profit pun semakin terimbas. Oleh karena itu sekalipun segmentasi secara tradisional masih memberikan manfaat bagi perusahaan, tetapi bila perusahaan ingin mencapai pertumbuhan profit yang tinggi, maka model segmentasi tradisional saja tidak cukup untuk mengejar laba. Untuk bisa tumbuh, perusahaan perlu melakukan renovasi pada cara melakukan segmentasi.
Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk mencapai hal tersebut, diantaranya adalah melakukan rekonstruksi pada value proposition seperti yang dilakukan oleh pengusaha Stelios Haji-Ioannou pendiri dari Easy Jet maskapai penerbangan biaya murah (low cost carrier) yang sukses di Eropa dan mampu mensejajarkan perusahaannya dengan sejumlah penerbangan flag carrirer yang mapan seperti British Airways, KLM dan Swiss Air.
Rekonstruksi value proposition dari Easy Jet, dapat dilihat pada empat pertanyaan penting yang dikembangkan oleh Professor Kim dan Mauborgne. Kerangka yang dikembangkan oleh kedua pakar strategi dari INSEAD ini – yang terkenal dengan bukunya Blue Ocean Strategy – dianggap sebagai kerangka strategis karena dapat membantu menciptakan value proposition yang baru dan membuat pesaing dan persaingan menjadi kurang relevan. Kerangka yang dikenal dengan ’eliminate-reduce-raise-create’ – ini sebenarnya merupakan pertanyaan-pertanyaan strategis yang dapat memicu pencarian nilai-nilai baru yang dapat ditawarkan oleh perusahaan, sehingga tetap competitive dan akhirnya memenangkan persaingan bisnis.
PERTANYAAN PERTAMA,
Atribut mana dari industri yang selama ini diterima sebagai takes for granted – sesuatu yang sudah diterima sebagai apa adanya – yang perlu dihilangkan (eliminate)?
Untuk menjawab pertanyaan ini, perusahaan perlu melihat atribut apa saja yang selama ini seakan diterima sebagai sesuatu yang given. Dalam kasus Easy Jet misalnya langkah yang ditempuh adalah dengan menghilangkan agen perjalanan dalam mata rantai penjualan tiket dimana semua reservasi dilakukan melalui internet dan call center. Selain itu, tidak diberikan makanan selama penerbangan. Dengan mengeliminasi, kosep penerbangan semakin disederhanakan. Naik pesawat, tidak mesti harus makan, dan tak bedanya dengan naik bis kota.
PERTANYAAN KEDUA,
Atribut mana saja yang dikurangi dibawah standar industri (reduce)?
Pertanyaan ini akan mendorong perusahaan untuk kembali mempertimbangkan produk dan service yang selama ini ditawarkannya. Easy Jet misalnya menyimpulkan bahwa fleksibilitas dalam penerbangan harus dikurangi, misalnya penumpang tidak diperkenankan untuk menentukan tempat duduk yang dikehendakinya lebih awal. Disini berlaku prinsip first come first served basis. Siapa yang datang pertama, dia yang mendapat tempat duduk pertama.
PERTANYAAN KETIGA,
Atribut mana saja yang harus ditingkatkan diatas standar industri (raise)?
Pertanyaan ini akan memacu perusahaan untuk menemukan dan menghilangkan kompromi yang selama ini dilakukan oleh industri untuk menekan dan memaksa konsumen untuk menerimanya. Dalam kasus Easy Jet, pertanyaan ini mendorongnya untuk melakukan langkah menetapkan harga murah, menggunakan pesawat baru, dan ketepatan waktu. Naik pesawat tidak mesti mahal, karena biaya operasional sebenarnya murah. Dan yang penting perlu dipahami memilih moda pesawat terutama karena konsumen ingin hemat waktu dan tepat waktu.
PERTANYAAN KEEMPAT,
Atribut baru apa saja yang harus diciptakan karena selama ini belum pernah ditawarkan oleh industri (create)?.
Pertanyaan ini mendorong perusahaan untuk berpikir kembali tentang sumber-sumber penciptaan nilai yang baru bagi konsumen yang selama ini seakan tidak tersentuh. Dalam hal ini, Easy Jet misalnya memutuskan untuk menawarkan ticketless travel, pengembalian kembali uang tiket bila terjadi keterlambatan lebih dari empat jam dan memberlakukan tiket sekali jalan. Bayangkan berapa pengematan perusahaan dari membikin tiket, serta betapa hematnya waktu karena pemesanan tiket bisa diselesaikan dengan sekedar click and go.
Dengan menggunakan acuan empat pertanyaan diatas, Easy Jet mampu mengatasi harapan paling mendasar dari rata-rata konsumen dalam industri penerbangan, yakni, pertama menyangkut keselamatan penerbangan, dan kedua, ketepatan waktu. Kedua aspek ini dipenuhi secara sungguh sungguh oleh EasyJet, dengan menyediakan pesawat yang baru dan memberikan ganti rugi bila terjadi keterlambatan.
Kedua aspek ini kemudian dipadukan dengan harga tiket yang murah sehingga membuat penawaran dari Easy Jet mempunyai nilai strategis (strategic competitiveness) dibanding flag carrier lainnya. Dengan cara ini pula, Easy Jet membuat pesaing dan persaingan lain dalam industri penerbangan menjadi tidak relevan lagi. Inilah yang disebut oleh Professor Kim dan Mauborgne dengan blue ocean strategy. Artinya pebisnis depersilahkan mengintip dan menangguk kentungan dari dalamnya lautan jutaan peluang untuk menaikan keunggulan perusahaan. Tidak sekedar meng-copy and paste strategi perusahaan lain
Dengan mengacu pada kerangka ‘Eliminate-Reduce-Raise-Create’ di atas, para manajer mestinya akan mampu menemukan dan mengeksplorasi berbagai peluang secara sistematis untuk menciptakan nilai-nilai baru bagi konsumen. Tidak hanya menerapkan konsep segmentasi ala kadarnya, apalagi sekedar meniru apa yang dilakukan perusahaan lain tanpa melihat secara tuntas, sejumlah peluang, resources, tantangan (internal dan eksternal) dan sejumlah kompetensi yang dimiliki perusahaan. Dengan kata lain segmentasi hendaknya dilakukan dengan hati-hati dan strategis. Nilai-nilai yang selama ini seakan- akan sudah dianggap diketahui dan diterima sebagai hal yang given, diterapkan begitu saja oleh para pemasar. Dalam pandangan Sergio Zyman, pemasar saat ini harus berani untuk melakukan renovasi cara berpikir tentang segmentasi karena segalanya berubah, termasuk konsumen dan nilai-nilai yang dianut.
Pustaka :
Refrinal. 2007. Re-segmentasi Strategi dalam Marketing for Decision Maker. Kumpulan Artikel dan Kliping. Field Survey Indonesia. Jakarta
Hanya ikan yang bodoh yang bisa dua kali kena pancing dengan umpan yang sama
Anonim

Produk Line Harus Lengkap

KETIKA mengisi beberapa seminar atau pun in house training, muncul beberapa pertanyaan ‘Apakah product line harus lengkap? Mungkinkah kalau kami hanya menjual produk bedak atau lipstik saja?
Pendapat serupa juga sering dilontarkan oleh pengusaha jamu atau mungkin masih ada yang lain lagi. Apakah memang benar, bahwa product line itu selalu lengkap?
Secara tegas penulis berani menjawab pertanyaan tersebut, ‘Tidak selalu! Buktinya, Unilever sukses memasuki bisnis toiletries/ kosmetik tradisional, dengan hanya memasarkan Citra Hand & Body Lotion saja di awalnya.
Bahwasannya kita tidak boleh terus menjadi suatu single product company, tentu benar. Karena suatu single product company sangat berbahaya dan rawan karena konsumennya hanya satu atau satu segmen. Ini tentu berbahaya sekali. Sebab sekali pelanggan tersebut lepas, maka perusahaan akan langsung gulung tikar.
Jika perusahaan hanya memasarkan satu produk ini juga sangat riskan. Karena betapa pun hebatnya suatu produk, tidak ada yang omzetnya naik terus. Suatu ketika dia pasti akan mengalami titik jenuh, atau bahkan mengalami penurunan. Memang tidak semua produk akan mengalami penurunan, namun tahap kejenuhan pasti akan dialaminya.
Namun sebaliknya, terlalu lengkap atau terlalu banyak produk, juga tidak dianjurkan. Apalagi kalau perusahaan kita terlalu kecil. Terlalu banyak produk akan membuat perusahaan terjerumus dalam kesalahan spreading too thinly, di mana sumber dayanya terpecah pecah/terbagi-bagi untuk terlalu banyak produk. Sehingga akhirnya tidak ada produk yang berhasil. Karena sumber daya manusia, manajemen dan lain sebagainya, kurang konsentrasi atau terfokus.
OPTIMAL
Jadi jangan terjerumus dalam 2 titik ekstrem tadi, baik hanya mengandalkan satu produk, atau mempunyai terlalu banyak produk. Carilah titik optimal, atau jumlah produk yang pas. Tidak terlalu sedikit, tetapi juga tidak terlalu banyak.
Untuk menuju titik optimal tadi, perusahaan harus melakukan pengembangan produk baru, maupun product pruning/ mematikan produk produk tertentu. Pengembangan produk baru harus dilakukan dengan frekuensi yang cukup, serta selalu didukung oleh marketing budget yang cukup besar, agar peluang suksesnya lebih tinggi. Tetapi karena pemasaran itu bukan eksakta, maka pasti ada produk baru yang gagal. Nah, kalau suatu produk itu gagal, sehingga setelah suatu kurun waktu yang cukup lama, kontribusi penjualannya tetap kecil sekali, maka produk demikian ini perlu di-pruning.
Kita tidak perlu malu untuk melakukan product pruning, karena Unilever, IBM, Coca Cola dan perusahaan multinasional yang paling hebat sekalipun, pernah gagal. Di Indonesia saja Unilever pernah mematikan Pomade Erasmic, serta juga Elida Beauty Plan.Hanya dengan kombinasi pengembangan produk baru, plus pruning product, perusahaan bisa mempertahankan product line yang optimal.
Sayangnya, di sini banyak perusahaan yang seperti terlalu keberatan gengsi, untuk melakukan pruning product. Apalagi kalau harus menutup seluruh divisi. Padahal produk dengan kontribusi sales yang terlalu kecil sekali, hanya merepotkan semua pihak. Pabrik harus bekerja tidak efisien, karena setiap kali mesin harus distel untuk membuat produk yang begitu sedikit. Lalu salesman juga harus membawa produk yang begitu banyak dalam kanvasnya keluar kota. Belum lagi tempat yang harus disediakan dalam gudang, beserta segala kerepotannya. Lalu, tentu akan ada modal mati untuk menyediakan bahan bakunya, serta modal mati berupa piutang usaha yang biayanya cukup tinggi, karena produknya kurang laku. Dan jelas juga akan menyita waktu manajer kita sendiri!
PEDOMAN UMUM
Sebagai pedoman umum bisa dikatakan, bahwa perusahaan besar sebaiknya mempunyai product line yang relatif lengkap. Sedang perusahaan sedang dan kecil, sebaiknya mempunyai suatu limited product line. Alasannya, seperti sudah diketahui, adalah sumber daya yang terbatas untuk perusahaan kecil. Dengan suatu limited product line, maka akan lebih terjadi konsentrasi/fokus sehingga peluang berhasil juga akan lebih tinggi.
Karena itu kita melihat Toyota dan IBM, yang relatif lebih lengkap product line-nya. Toyota punya kelas sedan lux mulai dari Crown, Cressida, Corona, Corolla hingga Starlet. Mereka bahkan juga punya truk dan Kijang. Tetapi mereka tidak punya pick-up kelas 1.000 cc! Karena itu penulis sengaja menggunakan kata relatif lebih lengkap. Demikian juga IBM. Mereka mewakili dari supercomputer, minicomputer, hingga personal computer. Tetapi kembali lagi, IBM tidak membuat komputer yang berupa mainan anak kecil. Mungkin segmen yang terlalu bawah dipandang kurang menguntungkan untuk perusahaan sebesar Toyota dan IBM.
Sebaliknya, Honda dan Apple, lebih terbatas product line-nya. Di sini Honda dulu juga punya mobil pick-up atau Honda Life, yang sangat kecil itu. Tetapi kini mereka hanya main di Civic dan Accord. Begitu juga dengan Apple, yang hanya main di segmen personal computer. Dengan sumber daya yang jauh lebih terbatas, mereka ingin lebih mengonsentrasikan diri di satu-dua segmen saja.
Titik optimal itu terdiri dari berapa produk? Jawaban yang pasti dan eksakta tentu tidak ada, karena semua perusahaan punya karakteristik industri yang berbeda beda.
Namun titik optimal itu terdiri dari 3-5 produk, atau belasan, atau mungkin bahkan puluhan, dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Yang pertama tentu sumber daya keuangan perusahaan. Seberapa jauh kita bisa membiayai laju pertumbuhan perusahaan kita sendiri.
Yang kedua, tentu keadaan persaingan. Makin ketat persaingan, product line-nya harus makin terbatas. Ketiga, kemampuan perusahaan untuk menghasilkan produk yang lebih differentiated (unik), atau lebih baik. Kalau perusahaan mau membuat mobil pick up 1.000 cc, tentu harus ada differensiasi atau kelebihan yang signifikan. Sebab kalau produknya sama saja dengan pesaing, alias me-too, maka kemungkinan sukses akan tipis sekali.
Akhirnya, market size tentu ikut menentukan seberapa jauh titik optimal yang cocok itu. Kalau market besar sekali seperti untuk mobil, maka membuat Civic dan Accord saja sudah cukup. Sebaliknya, kalau market size-nya kecil, maka kita tentu membutuhkan lebih banyak produk.
Semoga jelaslah dengan artikel ini, bahwa product line jelas Tidak Perlu Lengkap, melainkan harus berada pada titik optimal!
Pustaka :
Anonim dalam Refrinal. 2007. Produk Line Harus Lengkap dalam Marketing for Decision Maker. Kumpulan Artikel dan Kliping. Field Survey Indonesia. Jakarta
Pengetahuan ada dua macam : yang telah kita ketahui dengan sendirinya atau yang hanya kita ketahui dimana ia bisa didapatkan.
Samuel Johnson